Mengenal arti kebersamaan – mengapa dicari perbedaan?

Masyarakat Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Mengenal arti kebersamaan - mengapa dicari perbedaan?
Mengenal arti kebersamaan - mengapa dicari perbedaan? © Distinctiveimages | Dreamstime.com

Sebagai muslim, kebersamaan ini harus dijaga. Salah satunya adalah dengan mengerjakan secara bersama hal-hal yang disepakati. Toleran dalam hal yang masih diperselisihkan, selama tidak ada unsur maksiat.

Mengenal arti kebersamaan

Sebab itu, Jika ada persamaan, mengapa mencari perbedaan. Jika ada yang umum, mengapa memakai yang khusus. Jika ada yang disepakati, mengapa memakai yang tidak disepakati.

Bukankah tujuan dakwah mendekatkan yang jauh, memperkecil perbedaan dan berusaha mengikuti yang banyak selama tidak dosa?

Saat jadi imam di tengah masyarakat fanatik qunut, tuntunannya kita qunut walau sehari hari kita tidak qunut. Sebaliknya di tengah masyarakat yang tidak qunut padahal kita biasa qunut, maka tidak qunut adalah pilihan yang tepat.

Sama halnya memakai peci atau tidak memakai. Sesuaikan dengan keumumam yang ada. Begitu fiqh dakwah yang kita fahami. Mengikuti cara umum yang dilakukan masyarakat lebih menjamin keselamatan dan akan terhindar dari ancaman fitnah.

Bahwa apa yang kita lakukan itu tidak salah, tapi membuat orang curiga atau kecurigaannya dapat legitemasi, maka menurut persefektif dakwah, tetap melakukannya adalah sikap yang kurang bijak.

Mengapa dicari perbedaan?

Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW melarang membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul. Untuk menghindari opini negatif, yang bisa jadi satu waktu dihembuskan kaum munafiq, bahwa Rasulullah pembunuh saudaranya sebab secara zahir ia seorang muslim.

Padahal ia adalah gembong munafiqin yang selalu menyebarkan fitnah di tengah kaum mukminin. Bertahan dan sabar atas kelakuannya lebih ringan dibanding harus membunuhnya.

Ibnu Hisyam di dalam sirahnya meriwayatkan bahwa seorang pelayan Sayidina Umar bin Khathab r.a yang bernama Jahjah bin Mas’ud Al-Ghifariy bertengkar dengan Sinan bin Wabr Al-Juhaniy. Pertengkaran ini terjadi di dekat telaga Al-Muraisi’.

Keduanya berusaha ingin saling membunuh sampai Sinan bin Wabr Al-Juhaniy berteriak minta pertolongan, “Wahai kaum Anshar!” Sedangkan pelayan Sayidina Umar bin Khathab juga berteriak, “Wahai kaum Muhajirin!”

Ijtihad – lihat situasi dan kondisi hal

Mendengar kejadian ini, Abdullah bin Ubay bin Salul marah dan berkata kepada orang-orang munafiq yang mengelilinginya:

“Apakah mereka (orang-orang muhajirin) sungguh telah melakukannya? Mereka telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negeri kita. Demi Allah, antara kita dan orang-orang Quraisy ini tak ubahnya seperti apa yang dikatakan orang, ‘Gemukkan anjingmu, ia akan menerkammu’. Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir orang yang hina.”

(Ibnu Hisyam juz 4, halaman 253)

Di antara orang yang mendengar ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul ini ialah Zaid bin Arqam. Ia kemudian melaporkan berita tersebut kepada Rasulullah SAW.

Pada saat itu, Umar berada di samping Rasulullah SAW, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkan saja kepada ‘Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya!” Rasulullah SAW menjawab: “Bagaimana wahai Umar, jika orang-orang membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh shahabatnya ? Tidak.”

(Ibnu Hisyam, juz 4, halaman 254)

Jadi, dalam hal yang masih terbuka ruang ijtihad, sekalipun menurut kita benar, untuk melakukannya tetap harus melihat situasi dan kondisi yang melingkupinya. Agar tidak terjadi kontra pruduktif, yang pada akhirnya kita-lah yang menanggung akibatnya.

Mengikuti opini umum dalam hal seperti ini lebih selamat dan lebih maslahat.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.