Mengenal perbedaan Mahram dan Muhrim

Islam untuk Pemula Merry Lestari
Merry Lestari
Mengenal perbedaan Mahram dan Muhrim
Mengenal perbedaan Mahram dan Muhrim © Odua | Dreamstime.com

Sering kali masyarakat pada umumnya menyamakan antara penggunaan kata mahram dan muhrim. Padahal jelas keduanya memiliki arti dan makna yang sangat berbeda.

Sebagian besar masyarakat sering menggunakan kata mahram dan muhrim dengan makna sebagai orang yang sah bagi mereka untuk saling bersentuhan layaknya sesama jenis ataupun keluarga.

Penggunaan kata muhrim dan  mahram yang salah

Sedangkan pada kenyataannya, makna kedua kata tersebut sebenarnya bukanlah seperti itu.

“Jangan dekat-dekat, kita bukan muhrim. Dosa! bisa memberikan balasan zina dalam islam! Laki dan wanita dilarang jalan berdua saja jika bukan muhrim, karena yang ketiga adalah setan.”

“Syarat untuk mendaftar beasiswa di negara Timur Tengah bagi wanita adalah harus memiliki mahram. Sedangkan aku masih lajang, jadi aku tidak bisa untuk mendaftar karena tidak memenuhi persyaratan.”

Kalimat-kalimat di atas adalah sebuah contoh penggunaan kata muhrim dan  mahram yang sering kita jumpai atau dengar di kalangan masyarakat, yang pada faktanya semua itu adalah salah besar. Namun, sayangnya sebagian besar kita pun meyakini hal itu.

Makna kata Mahram dan Muhrim yang sebenarnya

Secara istilah, mahram  adalah sebutan kepada orang yang diharamkan untuk dinikahi dalam ajaran Islam, karena nasab (keturunan) ataupun satu persusuan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi yang memberi batasan dalam pernikahan, dalam sebuah definisi berikut:

“Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram.”

(Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Bahkan penggunaan istilah mahram (wanita yang haram dinikahi) sendiri juga telah disebutkan dengan jelas dalam al-Quran terutama dalam surah an-Nisa, ayat 23 dan ayat 24.

“Diharamkan atas kamu(mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yangperempuan, saudarasaudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yangperempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anakperempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); Anak-anak istrimu yangdalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belumcampur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamumengawininya; (dandiharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); danmenghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang.”

(An-Nisa, ayat 23)

 

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(An-Nisa, ayat 24)

Mahram orang yang haram dinikahi, Muhrim kain untuk berhaji

Jadi sudah sangat jelas bahwa makna dari kata mahram adalah seseorang yang haram untuk dinikahi. Bukan istilah untuk seseorang yang telah halal bagi kita untuk saling bersentuhan kulit layaknya keluarga atau teman sejenis (suami atau istri).

Terutama di Indonesia, makna kata mahram sangat jauh berbeda dengan makna yang sebenarnya.

Lalu, bagaimana dengan makna kata muhrim? Kata sendiri muhrim berasal dari kata ihram atau kain untuk berhaji atau umrah. Kata muhrim adalah sebutan atau subjek untuk orang yang memakai kain ihram tersebut.

Ketika jamaah haji atau umrah telah memasuki daerah miqat, kemudian seseorang mengenakan pakaian ihramnya, serta menghindari semua larangan ihram. Maka orang itu adalah disebut muhrim.

Jadi sudah sangat jelas bahwa selama ini bahwa makna mahram dan muhrim yang kita yakini selama ini ternyata salah, serta tidak sesuai dengan dasar hukum Islam. Bahkan arti sebenarnya sangat jauh berbeda.