Mengenal sosok Al-Faruq

Agama Sanak 17-Okt-2020
Tombstone_of_Umar_(r.a)_by_mohammad_adil_rais
Makam Umar r.a di sebelah makam Rasulullah SAW dalam Masjid Nabawi © By Mohammad Adil CC BY-SA 3.0, Link

Namanya Umar bin Khattab bin Nufail bin Abd Uzza bin Rabah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adiy bin Ka’ab bin Luay. Nasab Sayidina Umar r.a bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Ka’ab bin Luay.

Umar r.a  biasa dipanggil Abu Hafsah dan digelari Al-Faruq karena sengaja menampakkan keislamannya di tengah kaum musyrik Quraisy. Gelar ini berarti juga jurang pemisah antara kekufuran dan keimanan.

Keluarga dan silsilah Sayidina Umar r.a

Sayidina Umar r.a lahir pada tahun 13 setelah Tahun Gajah. Kulitnya bewarna kemerah-merahan, wajahnya tampan, tangan dan kakinya berotot, postor tubuhnya tinggi seolah-olah naik di atas kendaraan, rambut dan jenggotnya sering disemir pewarna, serta memiliki jambang yang panjang dan lebat. Jalannya cepat, omongannya didengar, dan pukulannya menyakitkan.

Nama lengkap ayahnya Al-Khattab bin Nufail bin Abd Uzza. Nufail, kakek Umar r.a adalah seorang hakim kaum Quraisy. Sedangkan ibunda beliau, Hantamah binti Hasyim bin Al-Mughirah, sepupu Abu Jahal bin Hisyam. Silsilah ini menggambarkan bagaimana kedekatan Umar dengan Firaunnya umat ini.

Umar bin Khattab r.a memiliki beberapa istri yang salah satunya adalah Ummu Kultsum, putri Ali bin Abi Thalib r.a. Beliau dikaruniai 13 putra putri. Mereka adalah Zaid Al-Akbar, Zaid Al-Ashghar, Abdullah, ‘Ashim, Abdurrahman Al-Akbar, Abdurrahman Al-Ashghar,Ubadillah, ‘Iyadh, Hafsah, Ruqayyah, Zainab, dan Fathimah.

Khalifah kedua umat Islam ini menghabiskan separuh umurnya pada masa jahiliah. Beliau tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain seusianya, namun kelebihannya ia cepat belajar dan bisa baca tulis. Didikan ayah yang begitu keras membuatnya cepat mandiri dan sudah terbiasa memikul tanggung jawab semenjak usia dini. Dalam Tarikh Ibnu Asyakir, Umar r.a bercerita ketika berada di Bukit Dhajanan.

“Dulu aku mengembalakan unta milik Al-Khattab di tempat ini. Ia adalah orang yang keras dan kasar tutur katanya. Terkadang aku disuruh mengembala dan terkadang mengumpulkan kayu bakar.”

Sifat yang dimiliki Umar r.a

Dari riwayat lain dikisahkan, sang khalifah sering mendapat pukulan dan perlakuan tidak menyenangkan lainnya. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan mengembala kambing dan unta telah mewariskan pelbagai sifat positif seperti tegar dan berani.

Selain menekuni olahraga, Umar bin Khattab r.a juga terampil mencipta dan mendendangkan syair yang digelar di pasar Ukazh, Majannah, dan Dzu-Almajaz. Tempat berkumpul massa ini menjadi ajang unjuk kebolehan yang terkadang menjadi penyulut perpecahan bahkan peperangan.

Umar r.a juga menekuni dunia perdagangan. Dengan profesi ini beliau menafkahi keluarga dan mengantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Mekah. Karena dasar inilah dan ditambah mewarisi darah Nufail, beliau ditunjuk menjadi Hakim untuk menyelesaikan pelbagai sengketa yang terjadi di antara kaumnya.

Orang yang bijaksana, fasih bicaranya, kuat, penyantun, terpandang, dan argumentasinya kuat, begitulah Umar bin Khattab r.a dikenal. Berkat sifat yang dimiliki ini, beliau kerap menjadi duta suku Quraisy ketika berhadapan dengan suku lain. Begitu gigih beliau mempertahankan dan membanggakan sukunya, maka wajar saja jika ia menjadi penentang di garis depan ketika cahaya Islam datang.

Pada saat iman telah melekat di dada Sayidina Umar bin Khattab r.a, ia menyelami keindahannya. Di momen itulah Al-Faruq mulai dikenal, karena beliau meyakini betul perbedaan petunjuk dengan kesesatan, iman dengan kufur, serta kebenaran dengan kebatilan.