Mengenal Sunan Giri dan Tembang Turi Putih

Sejarah Asna Marsono
Asna Marsono
Mengenal Sunan Giri dan Tembang Turi Putih
Mengenal Sunan Giri dan Tembang Turi Putih © BY-SA

Turi putih

Ditandur ning kebon agung

Cumleret tibo nyemplung

Mbo iro, kembange opo

….

Etan kali kulon kali

Tengah-tengah tanduran pari

Saiki ngaji sesok yo ngaji

Ayo manut poro kiyai

Tulisan di atas merupakan salah satu tembang yang terkenal hingga saat ini. Berjudul Turi Putih, tembang ini mengisahkan filosofi dibalik kematian seseorang. Ada juga hikmah yang dapat dipetik untuk mengajak masyarakat taat dengan para ulama.

Filosofi unik di balik bait pertama Turi Putih akan dijelaskan pada akhir artikel. Sebelumnya, kita perlu mengenal lebih lanjut tokoh yang menciptakan lagu legendaris ini.

Turi Putih merupakan salah satu dari berbagai macam kesenian yang diciptakan oleh Sunan Giri. Jasa-jasa beliau dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa terkenang lewat tembang-tembang yang masih lestari hingga sekarang ini. Berikut adalah kisah singkat hidup beliau.

Siapakah Sunan Giri?

Sunan Giri, dengan nama lain Raden Paku, Prabu Satmata, dan Sultan Abdul Fakih lahir pada tahun 1442 Masehi di daerah Blambangan (Banyuwangi) Jawa Timur. Kisah mengatakan beliau dibuang ke laut karena dianggap akan membahayakan keadaan kerajaan tempat ia dilahirkan.

Ada yang menyebutkan alasan bahwa Sunan Giri dibuang ke laut karena patih kerajaan takut kelak beliau akan mewarisi takhta. Alasan kedua menyebutkan bahwa Sunan Giri dipercaya akan membawa wabah penyakit mematikan.

Kisah hidup Sunan Giri

Saat di buang ke laut, Sunan Giri yang masih bayi diselamatkan oleh seorang janda kaya bernama Nyai Gede Pinatih. Sumber lain mengenal beliau dengan sebutan Janda Patih Samboja atau Nyai Ageng.

Kemudian Sunan Giri dikirimkan ke Pondok Pesantren Ampel Denta untuk menempuh Pendidikan. Di sana beliau berteman dengan Sunan Bonang dan memustuskan untuk Bersama-sama memperdalam ilmu agama di Melaka. Namun, legenda lain juga mengatakan mereka Bersama-sama menuju Pasai di Pulau Sumatra selama beberapa tahun.

Sepulangnya dari perjalanan tersebut, Sunan Bonang memutuskan untuk berdakwah menuju desa-desa kecil, sedangkan Sunan Giri mendirikan pondok pesantrennya sendiri. Beliau mendirikan pondok di sebuah perbukitan atau Giri dalam Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi latar belakang nama ‘Giri’ dalam panggilannya.

Metode dakwah

Sunan Giri mengadaptasi kesenian khas Jawa dalam syiarnya agar lebih mudah diterima masyarakat, terutama anak-anak muda. Beliau juga lah tokoh dibalik permainan anak-anak Cublak Suweng dan Jelungan, serta beberapa lagu seperti Turi Putih di atas, Asmaradana, dan Pucung.

Diceritakan juga bahwa Sunan Giri adalah figur yang mengirimkan misionaris dari Jawa ke penjuru Nusantara, Madura, Kalimantan, Ternate, dan Haruku di Sulawesi.

Menurut Babad karya Datuk Ribambang, Sunan Giri lah yang menyebarkan agama Islam di Makassar dan Lombok.

Filosofi syi’ir Turi Putih

Turi Putih dianggap sebagai lambang kain kafan yang warnanya putih untuk mengkafani mayat. Ditandur ning kebon agung artinya ‘Ditanam di taman yang agung’, dalam hal ini berarti pemakaman.

Cumleret tibo nyemplung atau ‘Secepat cahaya lalu jatuh ke lubang’, berarti bahwa kehidupan dunia umurnya sesingkat kecepatan cahaya, dan kemudian manusia akan masuk ke liang lahat.

Mbo iro adalah ‘kamu kira?’ Sebuah pertanyaan yang kiranya akan ditanyakan malaikat saat di alam barzakh. Kembange opo? Diartikan ‘Kembangnya apa?’ bisa juga dianggap ‘hasilnya apa?’ yang merujuk pada amal apa saja yang sudah dipersiapkan selama di dunia untuk bekal di akhirat.

Syi’ir ini mengandung pesan bahwa kita harus terus mengingat adanya kematian, agar terus dapat mempersiapkan diri kita di waktu Hisab nanti. Kematian tidak mengenal tua atau muda, maupun kaya atau miskin, kematian dapat datang kapan saja kepada kita jika Allah Taala menghendaki.

Jadi gunakanlah kesempatan dan waktu yang kita miliki sebaik mungkin.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.