Mengenal Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim

Asia Asna Marsono
Terbaru oleh Asna Marsono
Mengenal Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim
Mengenal Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim (foto: Restorasi Makam Sunan Gresik, April 1912) © twitter.com/potretlawas

Islam tersebar di Pulau Jawa sekitar abad ke-14 hingga ke-18 Masehi. Meskipun datangnya Islam hadir dalam berbagai macam teori dan argumen, salah satu yang paling terkenal adalah bahwa Islam datang di Pulau Jawa melalui jasa para pedagang. Mereka datang membawa dagangan berupa rempah-rempah antara Maluku dan India, yang kemudian membuka pusat perdagangan dan pemberhentian di Pulau Jawa.

Bukti ini berasal dari salah satu makam sunan tertua dari antara ‘Sembilan Wali’ atau Wali Songo yang paling berpengaruh atas penyebaran Islam di Pulau Jawa, yaitu makam Sunan Gresik, yang menunjukkan tahun 1419. Di Leren, Gresik juga terdapat makam Fatimah binti Maimun, yang terukir kronogram berasal dari tahun 1080 Masehi, kemudian dijadikan bukti tertua datangnya Islam di tanah Jawa.

Siapakah Sunan Gresik?

Sunan Gresik diketahui memilik nama asli Maulana Malik Ibrahim. Namun juga biasa dikenal sebagai Maulana Maghribi atau Makhdum Ibrahim as-Samarakandi (asal Samarkand, Uzbekistan) dan ada yang mengenal pasti beliau berasal dari Kashan, Persia.

Menurut beberapa penelitian, kakeknya bermigrasi dari Samarkand ke Kashan. Sunan Gresik adalah murid dari tarekat Kubrowi Shafi’i, dari Tuan Guru Mir Sayid Ali Shafi Hamadani yang berasal dari Hamadan, Persia.

Sunan Gresik adalah pedagang yang kemudian melakukan perjalanan ke Champa (Kamboja) sebelum menetap di daerah pesisir Gresik, Jawa Timur. Beliau dikenal atas dakwahnya tentang Islam di Pulau Jawa, tepatnya di daerah sekitar Jawa timur dan utara.

Sunan Gresik juga yang merupakan penyebar agama Islam di kalangan kerajaan Majahit, setelah beliau mengislamkan salah satu Istri dari Raja Majapahit yang berasal dari Champa.

Metode dakwah Sunan Gresik

Sunan (gelar Sunan dalam bahasa Jawa berasal dari kata ‘Susuhunan’, dalam konteks ini berarti ‘dihormati’) Gresik menggunakan metode dakwah yang menggabungkan antara kebudayaan yang sudah ada dan terkenal di Pulau Jawa dengan ajaran-ajaran agama Islam.

Mengetahui pada zaman itu, budaya Hindu dan Buddha, terutama di daerah sekita Majapahit, masih sangat kental dikalangan masyarakat.

Dakwah melalui pendidikan

Beliau membangun pondok pesantren sebagai salah satu metode dakwah setelah membeli tanah di daerah Gapura, Gresik. Melalui unsur Pendidikan, beliau menanamkan tiga nilai penting dalam pondok pesantren.

Tiga nilai ini adalah:

  • Ibadah untuk menanamkan iman
  • Tabligh untuk menyebarkan ilmu dan amal
  • Memajukan kegiatan kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari

Dakwah melalui hubungan pernikahan

Melalui hubungan pernikahan, Sunan Gresik juga turut menyebarluaskan agama Islam. Anak-anak beliau meneruskan perjuangan dalam menyebarkan praktik agama in di penjuru Nusantara.

Sunan Ampel adalah salah satu yang meneruskan perjuangan Sunan Gresik dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Ampel merupakan putra dari Sunan Gresik dengan Putri Dwi Condrowulan, yang merupakan putri Champa.

Dakwah melalui kesederhanaan

Sebelum berdakwah secara terang-terangan, Sunan Gresik sudah terlebih dahulu mempelajari budaya masyarakat sekitar agar dakwahnya lebih diterima di kalangan masyarakat.

Beliau menjangkau kalangan kelas bawah dengan cara berdagang, dan karena suksesnya dagangan beliau, beliau diangkat menjadi Syahbandar oleh kerajaan Majapahit.

Sunan Gresik juga merupakan seorang tabib yang mengobati orang-orang secara gratis dengan obat-obatan herbal. Dari itu, beliau mencoba menyebarkan doa-doa sesuai dengan ajaran Islam yang kemudian diamalkan masyarakat setempat.