Mengenali akar-akar dosa

Filsafat Tholhah Nuhin
Opini oleh Tholhah Nuhin
Mengenali akar-akar dosa
Mengenali akar-akar dosa © Milkos | Dreamstime.com

Dosa adalah hijab (penutup) antara hamba dan Rabbnya, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, menghindari perbuatan yang dapat menghalangi kita dari Allah SWT adalah wajib hukumnya.

Tiga hal untuk menjauhi dosa

Namun, menjauhi dosa tidak akan terealisasi secara maksimal, kecuali bila dilakukan dengan tiga hal.

  • Ilmu pengetahuan
  • Penyesalan (Nadam)
  • Niat untuk menghindari dosa (Azm)

Apabila seseorang tidak mengetahui bahwa dosa merupakan hal yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah Taala, maka dia tidak akan merasa menyesal atas dosa yang dilakukannya, dan ia juga tidak merasa risih dengan perilakunya yang jauh dari Tuhannya.

Semua itu mengakibatkan ia tidak akan pernah kembali kepada jalan yang benar, yaitu jalan taubat. Oleh karena itu, mengetahui akar-akar dosa – yang merupakan sumber datangnya sebuah dosa – merupakan sebuah kewajiban. Sehingga dengan pengetahuan tersebut seorang hamba Allah SWT tidak mudah terjerumus ke dalam lembah dosa.

Mengenali akar-akar dosa

Dosa mempunyai tingkatan-tingkatan yang berbeda. Ia berbeda dari sisi kualitas,  pengaruh, serta akibat kerusakannya. Maka, hukumannya pun berbeda, baik hukuman di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah itu? Baginda bersabda: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina.”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Asal segala bentuk dosa itu kembali kepada dua hal.

  • Meninggalkan segala perintah Allah SWT
  • Melanggar segala hal yang dilarang-Nya

Kedua bentuk dosa tersebut adalah dosa yang digunakan Allah Taala untuk menguji nenek moyang jin, yaitu Iblis, dan dan nenek moyang manusia, yaitu Nabi Adam a.s.

Meninggalkan perintah Allah SWT dan melanggar yang diharamkan-Nya merupakan asal segala bentuk dosa. Hal ini pada dasarnya berhulu kepada dua sebab: syahwat dan syubhat.

Pengertian syahwat dan syubhat

Syahwat yang ada pada diri manusia merupakan saluran setan untuk menjerumuskan manusia kepada lembah dosa dan durjana. Setan memiliki langkah serta strategi yang jitu agar manusia menjadi pengikutnya, bahkan lebih jauh lagi supaya manusia menjadi tentara setan, yang nantinya berusaha menyesatkan manusia lainnya.

Apabila syahwat seseorang tidak dibimbing oleh akal dan aturan Allah SWT, maka ia akan selalu berusaha untuk memenuhi syahwatnya tanpa aturan dan bimbingan. Hal ini merupakan pembangkangan terhadap segala perintah dan larangan Allah, dan itulah dosa.

Adapun syubhat, secara etimologi berarti kemiripan, keserupaan, persamaan, dan ketidakjelasan. Al-Imam al-Ghazali mendefinisikan syubhat dengan perkataan:

“Sesuatu yang masalahnya tidak jelas, karena di dalamnya terdapat dua keyakinan yang berlawanan, yang timbul dari dua faktor yang menimbulkan dua keyakinan tersebut.”

(Ihya Ulumuddin. Juz 2, hlm. 99)

Maka, pengertian umum dari kata syubhat adalah sesuatu yang tidak jelas. Apakah sesuatu itu  benar atau salah, atau masih mengandung kemungkinan benar dan salah. Adanya syubhat pada diri seseorang merupakan hasil rekayasa setan melalui strategi taswisnya (rekayasa membuat keraguan).

Syubhat mengakibatkan para pemeluk agama menyelewengkan ajaran agama yang sebenarnya. Dan syubhat jugalah yang membuat peletak serta pengikut aliran-aliran keagamaan sesat, membangkang terhadap ajaran Allah SWT.