Mengenang Lebaran sebelum COVID-19

Kepercayaan Muhammad Walidin 23-Jun-2020
Begini Lebaran saat pandemi © Odua | Dreamstime.com

Sejak wabah Coronavirus COVID-19 menyerang dunia di akhir tahun 2019, banyak perubahan perilaku yang harus dilakukan oleh warga dunia. Istilah yang paling sering muncul adalah stay at home, social distancing, hand sanitizer, dan gunakan masker.  Istilah-istilah ini kemudian melebar pelaksanaannya dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menghadapi Lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah.

Untuk memperingati Syawal yang baru saja berakhir, berikut adalah situasi yang hilang dan terganti saat Lebaran masa pandemi.

Salat Idul Fitri di lapangan versus di rumah

Salat Idul Fitri biasanya dilakukan di tanah lapang sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW keluar pada hari Idul Fitri dan Adha ke musala.”

Menurut sumber, musala yang dimaksud dalam hadis itu adalah tanah lapang yang terletak di pintu masuk Madinah sebelah timur. Anjuran Nabi untuk salat Id di lapangan ini sangat logis karena banyaknya kaum muslimin yang hadir. Bila dilakukan di dalam masjid, tentu jamaah tidak akan tertampung.

Saat wabah menyerang, pemerintah Indonesia mengeluarkan himbauan agar umat Muslim melaksanakan salat Id di rumah atau sesuai protokol penanganan COVID-19 untuk menghindari penyebaran wabah yang lebih luas.

Jadilah salat Id pada tanggal 25 Mei 2020 lalu rerata dilakukan di rumah daripada di lapangan terbuka. Keriaan salat berjamaah memang hilang karena bisa berjumpa dengan kerabat. Akan tetapi, pengalaman baru salat Id berjamaah di rumah mendatangkan perasaan syahdu dan positif betapa nikmat kesehatan yang Allah berikan selama ini ternyata begitu berharga.

Sanjo tetanggo versus sanjo digital

Dalam bahasa Palembang sanjo berarti berkunjung. Sanjo tetangga saat Lebaran biasanya dilakukan secara kolektif agar lebih efektif berdasarkan urutan rumah atau usia. Setelah itu, barulah berkunjung ke saudara di luar kampung atau tempat yang lebih jauh.

Pandemi COVID-19 mengubah tradisi sanjo. Warga tidak bisa lagi secara bebas berkunjung ke tetangga. Selain dikhawatirkan terkena virus, juga khawatir akan membawa virus. Alternatifnya, banyak kampung yang menyelenggarakan sanjo virtual berbasis aplikasi Zoom atau Google Meet, termasuk halal bi halal instansi. Sungguh, pandemi telah menyederhanakan tradisi sanjo, terutama dari segi penghematan waktu dan biaya.

Angpao versus e-Money

Anak-anak adalah orang yang terbahagia saat Idul Fitri. Mereka bisa menikmati sajian khas kuliner Lebaran, memakai baju baru, dan mendapatkan reward berupa uang (angpao) hasil belajar puasa mereka dari orang tua. Angpao juga bisa datang dari saudara dan tetangga dalam bentuk berbagi rezeki. Kesempatan mendulang angpao di masa pandemi ini sangat berkurang.

Berbeda dengan para remaja, di masa pandemi ini mereka tetap bisa meminta angpao. Hanya saja dengan cara transfer e-money. Dengan sedikit rayuan, uang electronic akan masuk aplikasi dompet digital di HP mereka. Dengan cara ini, mereka bisa langsung berbelanja secara daring. Ternyata, pandemi juga mendorong pertumbuhan digital money.

Baju baru versus baju lama

Tradisi membeli baju baru di hari raya bermula dari sebuah hadis yang disandarkan kepada  Ali bin Abi Thalib. Ia meyampaikan bahwa  Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya.” (Hadis riwayat Al Hakim)

Bagi masyarakat modern, pakaian terbaik dimaknai sebagai pakaian terbaru. Sebab, pakaian terbaru selalu datang dengan model terbaru, sehingga dianggap pakaian terbaik. Dengan demikian, pakain lama tidak dianggap baru karena tidak up to date dari segi fashion. Hal inilah yang mendorong warga untuk memborong baju baru (terbaik) untuk keluarga.

Di masa pandemi, mall dan toko tidak lagi menjadi magnet kuat yang menyedot perhatian dan dompet warga menjelang Lebaran. Walau toko daring masih bisa diakses, namun hasrat belanja mode turun drastis. Pertimbangannya, baju baru yang dibeli tidak juga bisa dipakai ke mana-mana karena harus stay at home. Di samping itu, kebutuhan dapur saat pandemi lebih utama daripada kebutuhan lainnya.

Tak dinyana, pandemi ternyata juga membuat kita lebih bisa memaknai hadis tentang pakaian terbaik di atas. Jelas, pakaian terbaik tidak harus berupa baju terbaru. Kita tetap akan menemukan pakaian terbaik di lemari sepanjang tidak tidak ada penambahan pakaian terbaru.

Berwisata versus Berwaskita

Bagi masyarakat pedesaan, Idul Fitri menjadi momen sakral untuk saling bersilaturahmi. Namun bagi masyarkat perkotaan, momen Lebaran juga memiliki arti tambahan; saatnya untuk berwisata. Lebaran yang ditandai dengan tanggal merah beberapa hari sebisa mungkin dimaksimalkan untuk diisi dengan berwisata bersama keluarga. Tak heran bila tempat wisata di pinggiran kota akan penuh dikunjungi oleh wisatawan. Tempat-tempat seperti pantai, kebun binatang, puncak menjadi lokasi favorite untuk liburan pendek ini.

Fenomena yang menarik juga muncul dari keluarga muda millenial. Kelompok ini malah merencanakan berlibur ke luar negeri saat Lebaran. Selain pertimbangan tempat wisata lokal penuh, tentu wisata di negara minoritas muslim tidak akan seramai tempat wisata di Indonesia.

Saat penyebaran COVID-19 belum menunjukkan trend menurun, warga memilih untuk menerapkan hidup waskita daripada wisata. Menurut KBBI, waskita berarti waspada. Pandemi ini mengajarkan kita untuk waspada dalam segala hal. Tempat wisata adalah tempat kerumunan orang-orang yang paling dihindari di musim wabah. Pembauran orang akan mempermudah penyebaran virus corona. Alih-alih berwisata, orang-orang lebih memilih berwaskita. Ternyata, tetap ada berkah Lebaran di tengah wabah.