Mengenang tradisi Rantang menjelang Lebaran

Tiga jenis rantang aluminium © Artitwpd | Dreamstime.com

Lebaran, bagi umat Islam memiliki arti yang penting. Oleh karena itulah berbagai tradisi tumbuh untuk mejadikan hari ini istimewa. Tradisi ini berkembang tentu memiliki landasan agama, tidak bisa serta merta dicap sebagai bid’ah. Di antara tradisi yang berkembang di wilayah Nusantara adalah tradisi memberi atau bersedekah dalam bentuknya yang beragam.

Sebelum memasuki era millenium, kita  telah akrab dengan tradisi mengantar rantang menjelang Idulfitri. Bahkan tradisi ini terbilang wajib bagi masyarakat Melayu. Istilahnya adalah rantangan (secara umum), ma’anta (Melayu Jambi), dll. Rantangan menjelang Lebaran merupakan kegiatan mengantarkan rantang yang berisi sejumlah makanan ke rumah sanak saudara, terutama ke rumah saudara yang lebih tua. Bila orang tua masih hidup, tentu rantang pertama wajib dialamatkan ke rumah orang tua terlebih dahulu.

Ada tiga jenis rantang yang masih penulis terbayang hingga kini. Pertama, rantang aluminium polos, kedua rantang silver dengan motif bunga timbul atau tidak, ketiga rantang dengan motif daun rumput gajah atau loreng-loreng.  Umumnya rantang tersebut bersusun empat. Secara konvensi, rantang paling bawah diisi nasi, rantang kedua diisi opor ayam (atau lauk bersantan lainnya). Rerata isi kedua rantang pertama adalah sama di semua tempat. Akan tetapi, isi rantang ketiga dan keempat relatif berlainan.

Pada masyarakat Melayu Jambi, rantang ketiga berisi kue basah, sementara rantang keempat (paling atas) berisi kue kering. Pada masyarakat melayu lainnya, rantang ketiga dan keempat beirisi sambal kentang dan tumis bihun. Apapun jenis makanannya, yang pasti penerimanya akan merasa senang. Kesenangan ini tidak saja terkait dengan unsur material, tapi lebih jauh pada unsur immateri, seperti merasa dihormati, disayang, diingat oleh kerabat terdekat. Apalagi bila diiringi sayup-sayup gema suara takbir. Ada perasaan sublim yang menyusup ke relung kalbu pemberi ataupun penerima.

Saat ini, tradisi yang elok ini sudah pudar. Masyarakat modern memilih hal-hal yang simpel untuk diberikan mengganti rantang. Beruntung, beberapa masyarakat budaya berinisiatif untuk memperkenalkan tradisi ini kepada generasi millenial. Salah satu penggagas ini adalah Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD); penerus budaya Melayu Betawi Depok. Mereka menilai bahwa silaturrahmi pada saat Lebaran semakin berkurang. Padahal inti dari Lebaran adalah bersilaturrahmi. Oleh karena itu, mereka menghidupan tradisi rantangan dalam sebuah Festival yang berlangsung 2 hari.

Di akhir tahun 1990, tradisi mengirim parcel saat Lebaran sudah mulai dikenal masyarakat, terutama di instansi pemerintah atau kalangan pengusaha. Sebuah keranjang dari rotan berhias  dengan isi rupa-rupa makanan/minuman atau alat rumah tangga menjadi pilihan untuk diberikan kepada kolega atau atasan kerja. Istilah baru juga muncul di tahun 2020, yaitu hampers. Sebuah bingkisan apa saja yang dimasukkan ke dalam kotak dan dibungkus secara indah.

Menurut kamus Cambridge Dictionary, penyebutan kedua hal ini sebenarnya terbalik. Hamperslah yang seharusnya berbahan dasar keranjang/kotak, sementara parcel sejatinya adalah kumpulan benda yang dibungkus kertas. Apakah istilah ini akan dipakai masyarakat Indonesia sesuai dengan arti sebenarnya? Kita tunggu perkembangannya tahun depan.

Bila anda terlalu pusing untuk mengadakan rantang, parcel, atau hampers, maka Angpao Lebaran/duit raya bisa menjadi pilihan. Sebuah amplop bertuliskan selamat berlebaran dengan beberapa lembar uang di dalamnya telah menjadi pilihan termudah sebagai lambang kasih sayang di saat Lebaran. Demikianlah pergeseran tradisi hantaran menjelang Lebaran.