Mengokohkan rasa malu

Kesejahteraan Mental Tholhah Nuhin
Pilihan oleh Tholhah Nuhin
Mengokohkan rasa malu
Mengokohkan rasa malu © Reezky Pradata | Dreamstime.com

“Biarkan saja dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman”.

Inilah komentar Rasulullah SAW ketika melewati seorang laki-laki dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya kaitan dengan rasa malu. Demikianlah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Al-Iman, bab ‘Malu Sebagian dari Iman’.

Mengokohkan rasa malu

Sabda Rasulullah SAW tentang malu ini memberikan penekanan yang sangat jelas bahwa malu adalah sesuatu yang positif. Ia adalah sifat yang baik dan bagian dari keimanan seseorang.

Namun harus kita memahami dengan baik, apakah amalan atau perbuatan kita termasuk rasa malu yang dianjurkan atau sebaliknya. Termasuk sikap malu yang jauh dari sesuatu yang positif dan yang tidak dibenarkan.

Coba kita perhatikan dua hal berikut ini:

Pertama, sebut saja namanya Pak Fulan, dia termasuk jamaah masjid yang rajin. Namun, ketika pada satu acara pengajian yang diadakan di masjid tersebut, biasanya didahului dengan pembacaan ayat suci al-Quran.

Ternyata petugas yang dijadwalkan berhalangan hadir. Maka, panitia langsung teringat seseorang yang biasa hadir di masjid. Rajin ikut salat berjamaah dan bacaannya cukup baik, “Pak Fulan, bapak yang gantiin ya, yang terjadwal tidak hadir.” demikian pinta salah satu panitia. Namun, Pak Fulan menolaknya sambil berkata: “Nggak ah… saya malu.” Berulang kali diminta, namun jawabannya tetap sama.

Kedua, Namanya Fathimah, dia baru duduk di kelas lima SDIT. Ketika sepupunya yang seusia dengannya sedang berkunjung kerumahnya, dan ketika itu sore hari dan mereka hendak mandi.

Maka kakaknya berkata kepadanya: “Sudah… kalian mandi bareng aja biar cepat!” Dengan cepatnya ia menyahut: “Nggak ah…, emang kenapa?” Tanya kakaknya: “Kan malu, kak…ntar kelihatan auratnya.”

Tidak berani atau malu?

Pada kedua penggalan kisah di atas ini, tersebutkan kata ‘Malu’ yang dijadikan alasan menolak satu perbuatan. Apakah keduanya termasuk hal positif sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW?

Tentunya kita bisa membedakan, bahwa pak Fulan bukanlah sedang malu. Akan tetapi tidak memiliki keberanian yang cukup untuk membaca al-Quran di depan khalayak.

Sedang Fathimah, dia sedang benar-benar malu jika auratnya terlihat orang lain, dan ini adalah satu hal yang positif. Pada kasus yang pertama, seharusnya Pak Fulan tidak malu untuk melakukan tilawah.

Bahkan, ia harus malu saat menolak permintaaan saudaranya. Rasa malu saat menolok tilawah, adalah sesuatu yang positif bila dilakukan jadikan sebagai bahan evaluasi dan muhasabah ke depan. Agar Pak Fulan, selalu mempersiapkan keberaniannya untuk mengasah dan memperbaiki kembali kekurangan tilawahnya selama ini.

Dan untuk Fatimah serta saudaranya yang lain, maka perlu senantiasa mempertahankan sikap malu yang positif ini. Rasa malu yang harus dimiliki oleh setiap muslim muslimah dalam kehidupannya.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.