Menguatkan ikatan pernikahan

Menguatkan ikatan pernikahan © Odua | Dreamstime.com

Sering kita mendengar ketika seseorang baru saja menikah “semoga menggapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.” Dan tentu saja mereka yang menikah menginginkan hal tersebut. Namun, pada kenyataannya keadaan itu tidak terwujud begitu saja. Karena setiap pasangan suami istri memiliki latar belakang yang berbeda-beda, sehingga diperlukan proses yang panjang agar ikatan pernikahan kuat dan bisa menggapai sakinah, mawaddah dan warahmah.

Pernikahan  merupakan ikatan yang suci dan sakral. Bersatunya dua insan yang sebelumnya tidak halal  dan menjadi ikatan yang halal dan kuat ‘mitsaqan ghalizan’ dalam sebuah bingkai keluarga. Agar ikatan pernikahan menjadi kokoh dan berlangsung lama hingga ke syurga-Nya tidaklah mudah, ianya selalu dihadapkan dengan berbagai liku-liku dan terkadang penuh onak dan duri. Tidak cukup sekedar cukup usia dan materi saja dalam memasuki jenjang pernikahan.

Agar terwujud sakinah, mawaddah dan warahmah dalam pernikahan, berikut kiat yang harus dilaksanakan:

Membangun niat yang benar

Menikah adalah ibadah dan dalam ibadah ada tuntunan yang harus dipenuhi sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Agar pernikahan berbuah sakinah, mawaddah dan warahmah senantiasa mengalir sepanjang usia pernikahan maka hendaklah diawali dengan niat yang benar. Niat yang benar adalah melandaskan pernikahan sebagai jalan panjang menjalankan syariat Allah SWT dalam kehidupan. Dengan menyandarkan pada niat yang benar ini  akan muncul kesadaran dari pasangan suami istri untuk mencari role model dalam  menjalani kehidupan rumah tangga.

Dan sebaik-baiknya role model itu adalah berasal dari suri tauladan kita Rasulullah SAW. Bagaimana kehidupan rumah tangga Nabi SAW tidak kita ketemukan cela, yang ada justru menjadi nasehat dan bisa dipraktekkan saat ini. Pernah misalnya, Nabi SAW pulang ke rumah dan ketika itu tidak ia dapati makanan tersedia, maka dengan senyum ia sampaikan kepada istrinya kalau begitu saya berpuasa saja hari ini. Selalu ada solusi meskipun dalam kondisi sulit sekalipun.

Kedewasaan dan kemandirian

Dahulu, kedewasaan diukur dengan menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki. Saat ini kita menyadari bahwa kedua kondisi ini hanya menunjukkan kematangan biologis saja, dan tetap menjadi syarat yang harus dipenuhi ketika akan menikah. Namun kedewasaan bukan soal usia semata, tapi soal kematangan bersikap dan berprilaku. Untuk itu dalam pernikahan ukuran kedewasaan yang tidak kalah penting adalah memiliki rasa tanggung jawab dalam mengemban amanah dalam ikatan pernikahan. Ada peran masing-masing yang berbeda. Sebagai suami dan istri. Atau sebagai ayah dan ibu ketika nanti sudah memiliki keturunan.

Pemenuhan tanggung jawab masing masing ini menjadi begitu penting dalam mewujudkan sakinah, mawaddah dan warahmah dalam rumah tangga. Dan peran ayah sebagai kepalah rumah tangga sangat menentukan.  Memahami penjelasan Allah SWT dalam al Quran, surat At-Tahrim, ayat 6, haruslah menjadi motivasi  yang selalu diingat oleh ayah  dalam menjalankan tanggung jawab: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Kemandirian finansial juga menjadi perhatian terutama bagi kepala keluarga. Walaupun kita tidak berorientasi materialistik, tapi perlu bersikap realistik bahwa kebutuhan rumah tangga itu kontinyu dan cukup banyak variasinya. Perlu dipersiapkan dan diupayakan semaksimal mungkin jalan rezeki yang halal dan berkah agar keluarga yang kita bangun tercukupi kebutuhannya, baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan penunjang seperti pendidikan anak anak, kendaraan dan lain-lain.

Membiasakan musyawarah dalam mengambil keputusan

Sering kita jumpai sebuah keluarga yang awalnya hidup rukun dan penuh kasih sayang, namun seiring berjalannya waktu tiba-tiba muncul kesenggangan bahkan perselisihan. Banyak hal yang menyebabkan itu terjadi. Diantaranya perbedaan pendapat antara suami dan istri, antara orang tua dan anak, antara mertua dan menantu bahkan dengan keluarga lainnya. Terkadang disebabkan hal yang sepele namun tak jarang berakibat pertengkaran, perselisihan yang tajam bahkan perceraian. Dan bila ditelusuri lebih jauh penyebabnya adalah kurang terjalinnya komunikasi yang baik dalam rumah tangga.

Allah SWT berfirman dalam al-Quran, surah Asy Shura 42, ayat 38: “…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka…” Inilah solusi yang Allah tawarkan kepada kita dalam menghadapi problematika dalam kehidupan, yakni dengan bermusyawarah. Karena denga musyawarah akan bisa melunakkan hati anggota keluarga dan mencerdaskan akal mereka. Dan yakinlah tidaklah suatu kaum memusyawarahkan sesuatu melainkan mereka pasti akan diberi petunjuk. Dengan musyawarah kita akan terlatih untuk saling menghargai pendapat yang berbeda dan ujungnya akan terjalin kehidupan rumah tangga yang saling pengertian, mau bergotong-royong dan bantu membantu menuju hidup yang diridai oleh Allah.