Mengutamakan nafkah orang tua atau istri?

Mengutamakan nafkah orang tua atau istri? © Airdone | Dreamstime.com

Seorang istri hendaknya mendukung suaminya dalam meningkatkan ibadah  kepada Allah SWT termasuk berbakti kepada orangtua. Para ulama sepakat bahwa menafkahi istri adalah tanggung jawab suaminya mulai dari sandang, pangan, maupun papan tanpa ada batas minimal dan maksimal jika suaminya mampu.

Meskipun tidak ada batas minimal dan maksimal dalam Islam tetap saja dibatasi dengan kalimat ma’ruf (baik). Namun laki-laki juga memiliki kewajiban lain yang tidak kalah penting yaitu menafkahi orang tua.

Pada hakikatnya bahwa menafkahi orang tua dan istri adalah perihal yang tidak bisa dipisahkan dalam arti hendaklah beriringan. Hal ini harus dilakukan sekuat mungkin oleh anak laki-laki, menjadi suami yang bertanggung jawab untuk anak dan istrinya dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua seperti inilah agama menginginkan.

Dengan harapan keluarga dan orang tua hidup damai dan saling menjaga. Lalu bagaimana jika didapati suami belum mampu atau bahkan kurang. Maka para ulama sepakat istri dan anaknya diutamakan dan jika berlebih barulah kedua orang tua. Sebagaimana dalam hadis berikut:

“Mulailah (nafkah) dari dirimu, jika berlebih maka nafkah itu untuk ahlimu, maka jika berlebih maka nafkah itu untuk kerabatmu, jika masih berlebih maka nafkah itu untuk orang-orang di antara mu yang sebelah kanan mu dan kirimu.” (Hadis riwayat Muslim)

Ibnu Mundzir mengatakan ” para ulama sepakat tentang kewajiban menafkahi orang tua yang tidak punya pekerjaan atau kekayaan dengan harta anak mereka.” (Lihat Mughnil Muhtaj, Asy Syarbanni 5/183) sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut:

Diriwayatkan bahwa seorang Badui datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: “Saya memiliki harta dan orang tua, dan ayah saya ingin menghabiskan harta saya”. Maka Nabi Muhammad  menjawab: “Engkau dan hartamu boleh dipakai orang tuamu. Sesungguhnya anak-anak kalian termasuk penghasilan terbaik, maka makanlah dari penghasilan anak-anak kalian.” (HR Ahmad, no. 7001)

Tetapi menafkahi orang tua tidaklah wajib kecuali dengan dua syarat:

  • Orang tua miskin dan membutuhkan bantuan
  • Si anak kaya dan memiliki kelebihan nafkah setelah nafkah yang diberikannya kepada keluarganya. Syarat ini disepakati oleh para ulama (Lihat Hasyiyah Ibnu Abidin 2/678, Minahul Jalil)

Jika keduanya terpenuhi, maka anak wajib menafkahi orang tuanya. Namun, jika hartanya hanya cukup untuk salah satunya maka diutamakan menafkahi istri dan anaknya. Dengan demikian kita tidak salah dalam menafsirkan aturan dalam Al-Quran, maka jika memiliki suami yang mampu menafkahi orang tua itu layak diapresiasi.

Di masa sekarang ini yang terjadi suami terlalu memihak soal nafkah istri padahal kondisi keluarga sudah berkecukupan tetapi lupa dalam menafkahi orang tua. Maka dari itu, hendaknya suami menjadi bijak dengan tetap membimbing istri dan anaknya untuk tetap memanfaatkan harta sesuai yang ma’ruf (baik) dan selalu berbakti pada orang tua untuk dinafkahi.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, yakinlah jika kita mensedekahkan harta kita kepada orang tua maka hatinya akan selalu rida lalu mendoakan semua kebaikan untuk anak-anaknya. Mari tetap berbagi dan menyayangi istri, anak dan orang tua kita, siapa lagi yang akan membahagiakan keluarga dan orang tua kecuali anaknya.