Menjadi guru yang baik dan disukai semua

Sudut anak-anak Bayu RI 12-Sep-2020
dreamstime_s_100518148
Menjadi guru yang disukai semua © Yudhistirama | Dreamstime.com

Kita sering mendengar anak-anak lebih suka belajar dengan guru A daripada guru B, karena guru A baik dan perhatian, sedangkan guru B mudah marah dan tidak humoris. Ungkapan ini sekilas mungkin biasa saja, tapi jika dibiarkan maka yang terjadi adalah anak tidak akan merasakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.

Padahal, salah satu hal yang menunjang agar anak mudah mengerti dan paham dengan pelajaran yang diajarkan oleh guru adalah terciptanya suasana belajar yang kondusif dan guru yang responsif serta tidak mudah marah.

Lebih dari itu, tingkah laku guru menjadi faktor penting dalam proses pendidikan. Karena tingkah laku guru akan ditiru dan diteladani oleh murid-muridnya. Ada peribahasa mengatakan “Apabila guru kencing berdiri, maka murid akan kencing berlari.” Ini sangat tepat menggambarkan tentang proses pendidikan dengan suri keteladanan. Dalam hal menjadi guru yang disukai oleh murid dan orang tua, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru.

Yang pertama, guru harus bisa membedakan antara mengajar dengan mendidik. Mengajar adalah kegiatan membimbing murid untuk mengetahui sesuatu dari sumber yang ada, ada proses timbal balik sehingga yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan mendidik adalah proses mentransfer pengetahuan secara sistematis dan terukur.

Tidak hanya sekedar transfer pengetahuan, tapi juga memahamkan tentang nilai-nilai etika, akhlak serta sebagai proses memanusiakan manusia. Dari itu, guru haruslah lebih fokus dalam kegiatan mendidik, agar murid tidak hanya paham tentang pengetahuan kognitif tetapi juga mengerti tentang bagaimana berprilaku yang beretika dan akhlak yang mulia.

Kedua, jadilah guru yang inspiratif. Tidak cukup dengan hanya mendidik dan mengajar saja. Lebih jauh dari itu diharapkan guru mampu memberikan inspirasi. Guru yang inspiratif mampu menghadirkan sesuatu yang menarik dan tidak biasa, menembus batas tradisi dan juga kreatif.

Setiap orang bisa menjadi guru, tapi tidak semua orang mampu menjadi guru yang baik, mengobarkan semangat, memancarkan energi positif, mencerahkan dan membekas dalam benak anak-anak. Hanya guru yang inspiratif lah yang bisa melakukan semua itu.

Guru inspiratif berbeda dengan guru kurikulum. Guru inspiratif selalu ingin perubahan, peka terhadap situasi, memahami muridnya dan tidak terbelenggu oleh ketentuan administratif seperti target pencapaian kurikulum, silabus, RPP dan ketuntasan belajar. Guru seperti itulah yang disukai oleh anak-anak kita di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Diakui masih langka, tapi kita harus mendorong agar guru-guru di negeri ini bisa mengarah ke sana.

Ketiga, jadilah guru spritual bagi anak-anak. Pada kondisi ini seorang guru harus mampu membangkitkan semangat spritual sang anak dengan menanamkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari ajaran agama kita agama Islam.

Pondasi keberhasilan pendidikan terhadap anak adalah semakin taatnya anak terhadap ajaran agama dengan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang disentuh dengan pendekatan yang baik dan lembut oleh guru untuk memahamkan tentang ibadah dan akhlak, biasanya akan lebih mudah menerima bahkan akan lebih membekas dalam kehidupan sang anak.

Banyak kita temui, guru-guru yang memiliki pemahaman spritual yang baik yang dengan kesabarannya berusaha meyakinkan dan mendidik anak-anak yang dianggap nakal, pada akhirnya bisa berubah dan justru menjadi berprestasi. Bahkan tidak jarang mereka mampu membuktikan pada orang tua dan lingkungannya bahwa ia bisa menjadi yang terbaik. Tentunya hal ini bisa terwujud jika orang tua juga mendukung proses pendidikan yang dilaksanakan oleh guru.

Tidak ada metode yang 100% sempurna dalam mendidik anak. Tapi proses untuk menjadi lebih baik dan kontinu harus terus diusahakan. Jangan jadikan tolok ukur keberhasilan anak pada angka-angka yang muncul pada kertas rapor setiap evaluasi akhir semester.

Karena yang lebih penting dari itu adalah bagaimana guru telah berusaha dan memberikan sumbangsih yang berarti bagi anak dalam menjalani kehidupan selanjutnya setelah menyelesaikan masa studinya dibangku pendidikan. Mari doakan, agar semakin banyak guru-guru yang cerdas, inspiratif dan memiliki pemahaman agama yang baik di negeri ini. Aamiin.