Menjadi orang yang mudah memaafkan

Iman Umri 22-Okt-2020
dreamstime_s_179740008
Menjadi orang yang mudah memaafkan © Heru Anggara | Dreamstime.com

Sebagian besar orang sering merasa tersakiti hingga sulit untuk memaafkan, luka yang mendalam yang sulit disembuhkan. Memaafkan adalah cara terbaik untuk menyembuhkan luka hati yang tersakiti, ia juga manjadi salah satu cara untuk melepaskan emosi-emosi negatif yang pernah muncul oleh seseorang.

Semakin besar luka maka akan semakin sulit untuk memaafkan dan semakin parah rasa sakit hati maka semakin perlu waktu lama untuk memaafkan. Memaafkan mengganti rasa sakit dengan rasa damai.

Sikap pemaaf adalah sangat mulia

Memaafkan bukanlah tindakan yang mudah, dibutuhkan sebuah perjuangan dan proses. Dalam upaya membawa perasaan negatif dan menggantinya dengan pikiran, perasaan, dan tindakan positif, selalu ada proses psikologis antara kedua belah pihak yang pernah mengalami keretakan hubungan akibat suatu permasalahan.

Namun, sikap memberi maaf adalah suatu keputusan yang sangat mulia. Betapun kesalahan orang ketika ia telah mengakui kesalahan dan minta maaf kepada anda, sudah seharusnya engkau memberikan maaf kepadanya.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

(Surah al-A’raf, ayat 199)

Redaksi singkat pada ayat ini telah mencakup semua sisi budi pekerti luhur yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Memaafkan menjadikanmu tenang, damai, positif dan bahagia.

Sementara, dendam yang membara hanya akan membuatmu stres, pikiran negatif dan hatimu menjadi terkotori. Bukankah Allah Yang Maha Kaya saja memiliki sifat pemaaf kepada hambanya? Apalagi kita manusia yang mempunyai banyak kekurangan sudah seharusnya memaafkan orang yang melakukan kesalahan.

Tiga tingkatan orang-orang yang bertakwa

Al-Quran menyebutkan tiga kelas (tingkatan) orang-orang yang bertakwa, firman Allah SWT:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(Surah al-i Imran, ayat 133-134)

Tingkat pertama, orang yang mampu menahan amarahnya. Seperti wadah yang penuh dengan air ditutup rapat supaya tidak tumpah. Ketika ada seseorang yang melakukan kesalahan kepadanya ia tidak terbawa suasana emosi, ia sanggup menahan amarahnya.

Tingkat kedua, orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kalau yang pertama tadi, yang bersangkutan baru menahan amarahnya kendati bekas luka itu masih memenuhi hatinya. Pada tahap kedua ini yang bersangkutan telah menghapus bekas luka itu, ia memaafkan.

Tingkatan ketiga adalah orang yang mampu berbuat kebajikan. Yakni bukan hanya sekedar menahan dan memaafkan tetapi justru yang berbuat baik kepada yang pernah melakukan kesalahan.

Minta maaf tidak akan membuatmu hina dan memberi maaf akan menjadikanmu orang yang mulia. Semoga kita menjadi pribadi yang pemaaf kepada siapapun.