Menjauhi syubhat: niat baik belum tentu dinilai baik

Masyarakat 26 Nov 2020 Komiruddin
Menjauhi syubhat: niat baik belum tentu dinilai baik
Menjauhi syubhat: niat baik belum tentu dinilai baik © Amenic181 | Dreamstime.com

“Enggak apa apa, kan hanya sekedar foto-foto bareng, lagi pula kan banyak orang, tidak sendirian.”

“Kasihan, panas-panas jalan sendirian. Lagi pula saya dan dia satu tujuan. Rasanya gimana kalau saya lewat tidak nawarin naik mobil.”

“Ah ini foto pas reunian alumni angkatan 20 SMA. Karena sudah puluhan tahun baru temu sekarang, kita foto bareng. Tapi ada juga yang minta foto berdua atau bertiga. Enggak apa-apa. Ramean ini.”

“Ah, Itu teman bisnis. Lagi pula kita bertemu di tempat umum dan terbuka.”

Niat yang baik belum tentu dinilai baik oleh orang

Alasan-alasan seperti di atas sering kita dengar. Ketika kita menanyakan perihal foto yang dishare di medsos atau kepergok sedang berduaan dengan lawan jenis, atau sedang bersama naik mobil, atau boncengan motor.

Niat yang baik belum tentu dinilai baik oleh orang lain yang melihatnya. Sebab masing masing orang memiliki persepsi yang kadang berbeda terhadap apa yang disaksikan.

Orang yang hatinya bersih akan berprasangka baik ketika ada teman lelakinya sekantor terlihat membonceng perempuan. Dia akan mengatakan, mungkin itu adiknya atau saudara perempuannya atau anaknya atau istri mudanya.

Tapi berbeda dengan orang yang hatinya kotor, apalagi dia memendam kebencian, dia akan melihat bahwa si A ini sudah selingkuh dan menghianati istrinya.

Oleh sebab itu Islam mengajarkan agar kita menjauhi tempat tempat dan perilaku yang menimbulkan kecurigaan dan tanda tanya

Sebab sikap atau tempat-tempat seperti itu dapat menjadi peluang setan untuk membisikan bisikan yang tidak benar sehingga meracuni pemikiran dengan tuduhan-tuduhan negatif yang tidak berdasar.

Prilaku yang tidak memberikan ruang untuk bisikan fitnah

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.”

(Hadis riwayat Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, muttafaqun ‘alaih)

Hadis diatas ada sababul wurudnya (baca: konsideransnya). Sebagaimana yang diriwayatkan Shofiyah. Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, “Pernah Rasulullah SAW sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku.”

Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah SAW, mereka mempercepat langkah kakinya.

Nabi Muhammad SAW lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.”  Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.”

Begitulah Rasulullah SAW memberikan contoh bagi kita bagaimana sikap dan prilaku kita tidak memberikan ruang pada setan untuk membisikan fitnah.