Menulislah, maka engkau akan abadi!

Hiburan Muhammad Walidin 11-Sep-2020
dreamstime_s_52229587
Menulislah! © Suryo | Dreamstime.com

Menjadi penulis adalah cita-cita banyak orang. Faktanya, hanya sedikit yang berhasil. Mengapa? Karena menulis adalah akumulasi dari berbagai kegiatan, seperti merenung, membaca, berfikir analitis, dan berlatih menulis. Pun juga merupakan kumpulan dari sikap tekun, pantang menyerah, dan konsisten.

Al-Jahiz (wafat 868 Masehi), seorang cendekiawan Afrika-Arab terkenal Abbasiyah pernah menulis ‘Al-Qalamu abqa atsaran wa al-lisan aktsar hadzaran’. Artinya, ‘Jejak goresan pena lebih abadi, sementara lisan lebih cepat berlalu’. Dalam bahasa latin, kata hikmah ini berbunyi ‘Verba volant, scripta manent’.

Pramoedya Ananta Toer juga memberikan pernyataan bernas dalam hal menulis: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” katanya. Akhirnya, orang-orang menyingkat ungkapan Pram tersebut dengan kalimat yang lebih pendek, “Menulislah, maka engkau akan abadi”.

Baik perkataan al-Jahiz maupun Pramoedya Ananta Toer selaras dengan pernyataan Bud Gardner, penulis terkenal serial The Chicken Soup for the Writer’s Soul. Ia menyatakan bahwa ketika kamu bicara kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau di sepanjang koridor. Akan tetapi, saat kamu menulis, maka kata-katamu akan bergema melintasi berbagai zaman.

Mari kita uji pernyataan al-Jahiz, Pramoedya Ananta Toer, dan Bud Gardner di atas dengan melihat berbagai contoh tentang yang hilang dan yang abadi karena menulis.

Di Jazirah Arab, para penyair Arab sebelum tahun 500 Masehi (M) tidak diketahui jejak karyanya. Mereka dianggap sebagai bagian dari Arab yang lenyap (al-‘Arab al-Ba’idah).  Oleh karena itu, sejarawan sepakat bahwa periodeisasi kesusastraan Arab dimulai setelah tahun 500 M.

Hal ini dibuktikan dengan 30 bait syair karya ‘Adi bin Rabi’ah (antara 491-531 M) atau yang dikenal dengan nama Muhalhil. Pada periode selanjutnya, nama-nama besar seperti Imru al-Qais (lahir 501 M), Zuhair bin Abi Salma (lahir 520 M), Abu Nawas (lahir 756 M), al-Mutanabby (lahir 915 M) tetap hidup hingga kini karena karya-karya mereka.

Di India, nama Walmiki terus hidup hingga kini karena tulisannya berjudul Ramayana. Kitab ini akan dikenang oleh semua bangsa yang beradab. Walmiki menulis kisah besar itu dengan merangkai jalinan ingatan bangsa yang telah ada jauh sebelumnya.

Di Barat, nama Victor Marie Comte Hugo selalu dikenang sebagai sastrawan besar. Sastrawan Perancis yang lahir pada tanggal  26 Februari 1802 tetap abadi dengan lima kumpulan puisi dan tiga novel terbaiknya. Masa mudanya telah ia isi dengan menorehkan karya dengan menulis kumpulan puisi pada usia 20 tahun. Setahun setelah itu (1823), novel pertamanya berjudul Han d’ Islande menghantarkan pencapaiannya ke posisi terhormat di bidang sastra Perancis.

Di Indonesia, kerajaan yang diakui sebagai kerajaan tertua di Indonesia adalah Kutai Martadipura. Tersebab raja Kutai menulis sebuah prasasti Mulawarman (diperkirakan tahun 400 M), maka nama Mulawarman sebagai raja Kutai abadi hingga kini.  Sebelum tahun 400 M, kemungkinan kerajaan lainnya tetap ada, tetapi bukti tertulis yang bisa diacu tidaklah lengkap, seperti kerajaan Salakanagara di Jawa bagian barat (abad 1 M) dan juga Kerajaan Kandis di Riau (abad 1 Sebelum Masehi) .

Tulis menulis membuat hubungan yang jelas antara manusia pada masa lampau, sekarang, dan masa depan. Berbagai peradaban besar tumbuh dan bertahan melalui tulisan. Dengan tulisan, sebuah peristiwa akan tetapi abadi, sementara tulang belulang penulisnya telah lama hancur. Maka, menulislah sebab dengan menulis, anda akan abadi.