Menyebut nikmat kebaikan dari Allah SWT

ID 39249376 © Matthiase | Dreamstime.com
Menyebut nikmat kebaikan dari Allah SWT © Matthiase | Dreamstime.com

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Nikmat itu ada dua; nikmat muthlaqah (mutlak) dan nikmat muqayyadah (nisbi).” Nikmat muthlaqah adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam. Adapun nikmat muqayyadah adalah nikmat yang hanya dirasakan sementara; ini berupa keluarga, harta, status sosial, jabatan dan pengaruh.

Kisah mulia menceritakan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala  pada seorang hamba-Nya, Nabi Yusuf ‘alaihis-salam. Kesadaran akan kasih ayah kepadanya. Kasih sayang sang ayah yang menjadi alasan dijatuhkan makar oleh saudara serumah. Sakit hati yang memuncak memunculkan ide besar konspirasi jahat.

Bertimpa cobaan mendera. Dari sumur berpindah ke dalam kemegahan istana. Tak henti cobaan. Disangka istana menghadirkan bahagia namun fitnah durjana mengantarkan ke penjara. Ternyata kegelapan penjara mengantarkan Nabi Yusuf a.s ke singgasana.

Menyadari nikmat Allah SWT

Ungkapan syukur terucap atas nikmat kebaikan Allah SWT kepadanya. Keterpurukan jiwa dan diri yang dirasa, jauh dari pembelaan keluarga dan sahabat. Keyakinan kuat akan janji Allah ta’ala kepadanya, menambah kebaikan Allah kepadanya. Siapa yang menyangka Yusuf a.s yang berasal dari dusun melangkah perlahan menduduki singgasana.

Kebaikan Allah SWT telah menganugerahkan nikmat muqayyadah kepada Nabi Yusuf a.s. Buktinya pada firman Allah subhanahu wata’ala:

“Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

(Surah Yusuf 12, ayat 100)

Nabi Yusuf ‘alaihis-salam mengajari kita supaya menyadari nikmat Allah SWT. Besar ataupun kecil nikmat yang kita miliki, yakinlah itu merupakan kebaikan Allah kepada kita. Jangan pernah bandingkan kebaikan hamba dengan Pemilik hamba.

Menyembunyikan nikmat itu dibolehkan, apatah lagi nikmat mulia dari Yang Maha Mulia. Seperti dalam kisah Nabi Yusuf a.s, jadikanlah upaya menyembunyikan tujuan sebagai sarana untuk meraih hal-hal yang didambakan. Sesungguhnya pada tiap orang yang beroleh kenikmatan itu tak mustahil bila ada saja yang iri dan dengki kepadanya.

Disunahkan menyebut nikmat

Namun, menyebut nikmat juga  disunahkan untuk diberitahu orang-orang yang dekat dan kita cintai. Jika  nikmat itu adalah harta, maka bersyukurlah dengan zakat dan sedekah. Jika nikmat itu adalah ilmu, maka bersyukurlah dengan mengamalkan dan mengajarkannya. Akan tetapi, karena menyebut-nyebut nikmat secara berlebihan akan mengundang rasa iri dan dengki, maka sebaiknya hal tersebut dilakukan dengan wajar.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menegaskan dalam Sunan Abu Dawud, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma, Baginda berkata:

“Barangsiapa yang diberi kenikmatan (pemberian), kemudian ia menyebutnya, sungguh ia telah bersyukur. Dan jika ia menyembunyikannya, sungguh ia telah mengingkarinya.”

Dalam al-Hikam, Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata: “Apabila Allah SWT memberi karunia kepadamu, maka Dia akan menunjukkan kepadamu karunia belas kasih-Nya. Dan apabila Allah menolak pemberian-Nya kepadamu, maka Dia akan menunjukkan kepadamu kekuasaan-Nya.Maka, semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian dan pemeliharaan-Nya kepadamu.”

Bersyukurlah kita kepada Allah SWT. Menyebut dan menyampaikan luas kebaikan-Nya adalah kemestian karena itu semua nikmat anugerah dari Yang Kuasa. Menyebut itu tanda bersyukur, dan bukan kufur, beriring dengan akhlak mulia. Jika menyebut-nyebut berpolah sombong lagi tinggi hati, maka akan mengundang dan mendatangkan bahaya fitnah dan dengki.

Jangan menyebut, apalagi mengumbar, nikmat terlampau berlebihan. Mengapa? Karena bersebab angkuh diri, kita pun dibenci barisan pendengki. Karena itu, bila menyebut nikmat kebaikan dari Allah SWT, ceritakan nikmat sewajarnya, dan diamkan nikmat sewajarnya juga.