Motivasi bagi umat Islam untuk tabah dalam beriman

Filsafat 20 Apr 2021 Asna Marsono
Asna Marsono
Motivasi bagi umat Islam untuk tabah dalam beriman
Motivasi bagi umat Islam untuk tabah dalam beriman © Milkos | Dreamstime.com

Pada masa Rasulullah SAW, Muslim dipaksa keluar dari peradaban mereka dan berlindung di gunung dekat Makkah. Sampai saat itu, satu-satunya lawan mereka adalah orang-orang Makkah, tetapi sekarang mereka telah jatuh ke dalam kesulitan alam.

Menggunakan semua keterampilan, kekuatan, dan kemauan mereka, mereka selamat dari kondisi yang keras selama tiga tahun. Selama bertahun-tahun kerja keras dan pengejaran, mereka bertahan bahkan di lingkungan yang bermusuhan ini.

Motivasi bagi umat Islam untuk tabah dalam beriman

Khadijah r.a, istri Nabi Muhammad SAW adalah putri dari keluarga syahbandar yang sangat kaya. Namun dalam menghadapi situasi yang asing ini, beliau tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan tetapi juga menghabiskan semua sumber dayanya pada umat Muslim.

Bahkan umat dahulu biasa menghabiskan hari-hari mereka makan daun dan kulit pohon ketika mereka lapar. Tetapi di tengah-tengah begitu banyak penderitaan, tidak ada yang meninggalkan Islam. Mereka semua memiliki iman yang teguh kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana mungkin bagi mereka rela untuk berkorban seperti itu?

Semakin cepat kita bergerak maju saat ini, semakin kita menghadapi situasi yang berlawanan. Bagaimana seorang Muslim generasi sekarang dapat terinspirasi untuk memperoleh kualitas-kualitas ini seperti muslim awal?

Definisi sederhana dari kata ‘motivasi’ adalah ‘apa yang menginspirasi kita untuk melakukan sesuatu secara spontan’. Ini bisa menjadi satu regulator internal dan eksternal. Hal itu bisa menjadi sarana spontan untuk mencapai sesuatu dengan cara tertentu.

Motivasi adalah konsep yang dapat diterapkan pada segala usia dan lingkungan apa pun. Beberapa motivasi dapat diakibatkan oleh perilaku alami seperti cinta,  keterikatan, ketakutan, atau kemarahan. Lagi-lagi beberapa motivasi dibangun melalui imbalan eksternal yang membutuhkan pemenuhan aspirasi internal.

Bagaimana cara  memenuhi tujuan penciptaan kita?

Pertanyaan yang sering muncul di benak kita sebagai manusia adalah, mengapa kita berada di dunia ini? Apa tujuan kita di sini? Tanpa jawaban yang baik untuk pertanyaan ini, tidak ada yang akan mendapatkan motivasi yang cukup untuk mencapai tujuannya.

Maka Allah Taala memberikan jawaban kepada umatnya yang lebih baik dari apa yang telah mereka berikan kepada orang-orang yang mengetahuinya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

(Quran surah ad-Dhaariyat, 51:56)

Setelah tujuan hidup telah ditetapkan dalam pikiran kita, bagaimana kita dapat terinspirasi untuk memenuhi  tujuan ini sekarang? Al-Quran telah memberi kita jawaban:

“Demi masa; sungguh, manusia berada dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”

(Quran surah al-Asr, 103:1-3)

 

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.”

(Quran surah an-Nahl, 16:97)

Dalam ayat-ayat Al-Quran yang berbeda, kita diberitahu tentang berbagai perbuatan baik untuk memenuhi  tujuan. Dan bagi mereka yang berhasil memenuhi tujuan, hadiah telah dijanjikan untuk memotivasi umat.

Ketika kita melupakan tujuan ini karena berbagai alasan dalam perjalanan hidup, ketika kita menjadi mabuk dengan berbagai kesenangan, kita melarikan diri dari tujuan kita. Rasulullah SAW bersabda:

“Lebih ingatlah akan kematian daripada rasa kehidupan.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Mengenang kematian menginspirasi orang beriman

Mengingat kematian memang membawa kesadaran sejati kembali kepada kita. Jadi, jika semuanya gagal, ingatan akan kematian saja sudah cukup untuk menginspirasi orang beriman.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

(Quran surah al-i Imran, 3:185)

Kesadaran akan kematian dan realitasnya mendorong seseorang untuk bertobat dan secara teratur mencari pengampunan atas dosa-dosa. Ini membantu kita untuk menjadi rendah hati dan sederhana. Hal ini juga memainkan peran yang membantu dalam memenuhi tujuan kita.

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’”

(Quran surah al-Baqarah, 2:201)

Ingat, seorang Muslim dapat dengan mudah mengambil jalan menjadi orang beriman.