Mudik: ikan Salmon dan kita (1)

Lebaran - mudik kita dan salmon © Odua | Dreamstime.com

Siapakah yang tidak senang bila memiliki kesempatan untuk mudik lebaran ke kampung halaman? Semua perantau mendambakan mudik lebaran. Dan mudik selalu menjadi kata yang hidup dan bersemi rindang pada bulan Ramadhan.

Melihat antusiasme pemudik ini, penulis melihat ada persamaan antara aktivitas mudik Muslim nusantara ke kampung  halaman dan tradisi mudik ikan Salmon dari laut menuju sungai kecil tempatnya lahir.

Mudik Muslim ke kampung halaman dan mudik ikan Salmon

Ikan Salmon merupakan ikan dari keluarga Salmonidae. Mereka berkerabat dengan ikan trout dan char. Sebagian besar spesies salmon adalah anadromous yang  kehidupan mereka dihabiskan sebagian di  sungai  dan sebagian di laut.

Setelah lahir dan menghabiskan masa pertumbuhan selama 6 bulan sampai 3 tahun, mereka akan menyusuri dan menghanyutkan diri di sungai yang jernih. Kemudian menuju samudra Atlantik atau Samudra pasifik. Mereka akan hidup di laut untuk masa 1-5 tahun. Kemudian melakukan perjalan mudik kembali ke sungai kelahiran.

Aktivitas mudik ikan salmon itu pernah penulis lihat di salah satu saluran TV berbayar. Ikan-ikan salmon dewasa itu berenang mengarungi laut Atlantik atau pasifik yang luas menuju perairan air tawar di kaki-kaki gunung Alaska, tepatnya Teluk Bristol, barat daya Alaska USA. Perjalanan mudik ini sangatlah panjang karena  konon kabarnya bisa mencapai 1500-3000 kilometer dan memakan waktu berbulan-bulan dengan penuh perjuangan, bahkan cenderung tragis.

Ikan salmon menghadapi tantangan yang berat saat mudik. Pertama, perjalanan yang sangat jauh. Dapat dikatakan proses mudiknya ikan salmon merupakan migrasi terberat di dunia hewan. Selama perjalanan itu, ikan salmon tidak makan.

Mereka hanya menggunakan cadangan lemak ditubuh yang diubah menjadi energi sepanjang perjalanan. Untuk itu, ketika mereka telah sampai ditujuan dan bertelur, rerata ikan salmon betina menua dan mati berjamaah karena kelelahan.

Persamaan tradisi perjalanan ikan Salmon

Agar perjalanan dengan jarak 1500-3000 km tersebut berhasil, mereka berlatih untuk berenang dengan kecepatan 30 km/jam yang dapat menghasilkan daya lompat 3.5 meter. Kemampuan ini sangat dibutuhkan karena mereka akan mendaki setinggi 2000 meter dari lautan menuju sungai kelahiran.

Kedua, hadangan di perjalanan sangatlah ekstrim. Ketika sampai di perairan, beruang grizzly sudah menunggu mereka setelah masa hibernasi musim dingin. Musim semi ini adalah musim pesta ikan salmon. Para beruang menunggu di berbagai tempat strategis, biasanya di undakan yang mengharuskan ikan salmon melompat. Hewan berbulu ini mengandalkan lemak ikan salmon untuk cadangan makanan musim dingin berikutnya.

Ketiga, jalan panjang dan terjal pun telah menunggu. Ada banyak jeram, air terjun, batu-batu, perairan dangkal yang menjebak, serta waktu yang mungkin lama untuk menunggu pertambahan debit air agar bisa meneruskan perjalanan.

Namun, bayangan akan bening dan damainya sungai kelahiran telah mematahkan semua argumen kesulitan di atas. Ke sanalah mereka harus kembali. Ke sungai kelahiran untuk meneruskan kehidupan yang baru.

Dalam sebagian besar proses mudik ikan salmon ini, terdapat persamaan dengan tradisi mudiknya orang-orang Islam di nusantara dalam momen lebaran. Kerinduan akan kampung halaman dan perjuangan untuk mencapainya menjadi titik temu terminologi mudik antar kedua makhluk ini.

(bersambung)