Pendapat 05-Jun-2020

Mudik: ikan Salmon dan kita (2)

Muhammad Walidin
Kolumnis
Lebaran - mudik kita dan salmon (2) © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Tak bisa dipungkiri, sebagian penduduk kota-kota besar adalah para perantau dari desa atau kota lainnya. Mereka berangkat ke kota tujuan dengan berbagai alasan, seperti belajar, bekerja, dan membangun kehidupan yang lebih menjanjikan. Sepanjang proses mencapai tujuan tersebut, para migran seringkali diterpa kerinduan yang harus dituntaskan, terutama kepada kampung halaman. Di sana masih tertinggal orang tua dan sanak saudara, kehidupan yang alami, kenangan masa kecil yang selalu menarik-narik untuk dikunjungi.

Secara konvensi, waktu mudik nusantara ditetapkan menjelang lebaran idul fitri setiap tahunnya. Mudik lebaran telah menjadi agenda sosial tahunan yang masif. Proses ini tidak saja memakan dana yang melimpah secara komulatif, tetapi juga waktu, dan tenaga.

Penetapan waktu mudik nusantara menjelang lebaran ini dianggap pas. Lebaran idul fitri adalah ajang bersilaturrahmi dan bermaafan. Sebagai pribadi yang telah menjalankan puasa dan berhasil menggapai 10 hari pertama dengan rahmat, 10 hari kedua dengan ampunan, dan 10 hari ketiga dengan predikat bebas api neraka, maka secara otomatis ia menjadi pribadi yang bersih di hadapan Allah SWT. Akan tetap, bersih di hadapan Allah belum tentu bersih di hadapan manusia. Oleh karena itu, momen pembersihan diri secara vertikal ini patut disertai pula dengan pembersihan diri secara horizontal. Maka alasan kembali ke kampung adalah tepat karena orang tua dan kerabat banyak tinggal di sana dan memohon rido orang tua adalah hal yang utama.

Dari segi dana, kegiatan mudik cukup menguras kantong. Seringkali dana tabungan setahun terpaksa dialokasikan untuk dana mudik. Bagi yang tidak cukup punya dana cadangan, mudik akan direncanakan tahun berikutnya, tentu bila tabungan sudah mencukupi. Dana ini digunakan untuk transportasi, biaya selama perjalanan, biaya buah tangan, dan lain-lain.

Berkaitan dengan tenaga menghadapi tradisi mudik juga menyentuh wilayah yang lebih luas. Sebagai pribadi, dibutuhkan stamina yang kuat untuk mengikuti alur mudik karena perjalanan sangat berkaitan dengan jarak dan moda transportas. Bagi muslim yang jauh di luar negeri bisa menggunakan moda transportasi udara. Itupun masih diperlukan lagi perjalanan darat menuju kampung halaman. Bagi pengendara mobil pribadi, tentu stamina harus kuat karena akan memandu perjalanan yang panjang. Bagi pengguna bis umum, stamina juga sangat dituntut karena akan ada perpindahan moda transportasi yang mengharuskan untuk turun-naik kendaraan.

Bahkan, energi mudik ini telah meluas menjadi energi nasional. Semua pihak, mulai dari pemerintah hingga swasta turut andil dalam kelancaran arus mudik dan balik lebaran. Pemerintah telah mengerahkan suku dinas terkait, seperti TNI, Kepolisian, Dinas Perhubungan, Pemerintah Daerah, dll demi kelancaran tradisi tahunan ini. Sementara pihak swasta juga turut meramaikan kehebohan tahunan ini dengan membuka posko istirahat, informasi, dan sebagainya.

Tradisi mudik memang menyedot energi secara luas. Para pemudik rela berdesak-desakan di bandara, pelabuhan, dan terminal, bahkan di dalam bus. Tak jarang pula, tradisi ini menelan korban jiwa yang tak terhitung, seperti kecelakaan tunggal, tabarakan bus, dan lain sebagainya. Namun, keriaan berlebaran di kampung halaman meruntuhkan segala macam kesulitan. Panggilan kampung halaman selalu membuai perantau.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan ini, sama juga dengan perjalanan ikan salmon di atas. Kedua makhluq yang berbeda habitat ini sama sama berjuang untuk kembali ke tanah kelahiran. Keheningan alam telah menuntut mereka kembali. Keheningan hati telah membuat jiwa mereka berseri.

Namun jangan lupa perbedaan mendasar antara keduanya. Kalau ikan salmon mudik untuk tujuan reproduksi, orang-orang mudik untuk bersilaturrahmi!

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 25-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit. Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 18-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Namaku Husein. Aku adalah perawat  junior  di sebuah rumah sakit pemerintah di kota besar di Pulau Sumatera. Akhir-akhir ini rasa khawatir mengalir deras dalam fikiranku. Betapa tidak, pekerjaanku cukup beresiko untuk terpapar.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 10-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Oleh karena itu, kita akan mencari alternatif kata Angpao yang sekiranya pas untuk dilekatkan pada momen Lebaran. pencarian akan dimulai dari istilah-istilah dalam tradisi Arab, Islam, Indonesia, dan Melayu. Penelusuran padanan angpao dari bahasa di atas dipandang pas karena dianggap sebagai  akar dari tradisi Lebaran idulfitri.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 08-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Bila ditelusuri dari sunah Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Idul Fitri,  memang ditemukan istilah yang bisa dikaitkan dengan angpao. Diketahui  ada tujuh kebiasaan beliau dalam menyambut hari ini:

Terus Terus