Pendapat 01-Jun-2020

Mudik: ikan Salmon dan kita

Muhammad Walidin
Kolumnis
Lebaran - mudik kita dan salmon © Odua | Dreamstime.com

Siapakah yang tidak senang bila memiliki kesempatan untuk mudik lebaran ke kampung halaman? Semua perantau mendambakan mudik lebaran. Dan mudik selalu menjadi kata yang hidup dan bersemi rindang pada bulan Ramadhan. Melihat antusiasme pemudik ini, penulis melihat ada persamaan antara aktivitas mudik Muslim nusantara ke kampung  halaman dan tradisi mudik ikan Salmon dari laut menuju sungai kecil tempatnya lahir.

Ikan Salmon merupakan ikan dari keluarga Salmonidae. Mereka berkerabat dengan ikan trout dan char. Sebagian besar spesies salmon adalah anadromous yang  kehidupan mereka dihabiskan sebagian di  sungai  dan sebagian di laut. Setelah lahir dan menghabiskan masa pertumbuhan selama 6 bulan sampai 3 tahun, mereka akan menyusuri dan menghanyutkan diri di sungai yang jernih. Kemudian menuju samudra Atlantik atau Samudra pasifik. Mereka akan hidup di laut untuk masa 1-5 tahun. Kemudian melakukan perjalan mudik kembali ke sungai kelahiran.

Aktivitas mudik ikan salmon itu pernah penulis lihat di salah satu saluran TV berbayar. Ikan-ikan salmon dewasa itu berenang mengarungi laut Atlantik atau pasifik yang luas menuju perairan air tawar di kaki-kaki gunung Alaska, tepatnya Teluk Bristol, barat daya Alaska USA. Perjalanan mudik ini sangatlah panjang karena  konon kabarnya bisa mencapai 1500-3000 kilometer dan memakan waktu berbulan-bulan dengan penuh perjuangan, bahkan cenderung tragis.

Ikan salmon menghadapi tantangan yang berat saat mudik. Pertama, perjalanan yang sangat jauh. Dapat dikatakan proses mudiknya ikan salmon merupakan migrasi terberat di dunia hewan. Selama perjalanan itu, ikan salmon tidak makan. Mereka hanya menggunakan cadangan lemak ditubuh yang diubah menjadi energi sepanjang perjalanan. Untuk itu,, ketika mereka telah sampai ditujuan dan bertelur, rerata ikan salmon betina menua dan mati berjamaah karena kelelahan. Agar perjalanan dengan jarak 1500-3000 km tersebut berhasil, mereka berlatih untuk berenang dengan kecepatan 30 km/jam yang dapat menghasilkan daya lompat 3.5 meter. Kemampuan ini sangat dibutuhkan karena mereka akan mendaki setinggi 2000 meter dari lautan menuju sungai kelahiran.

Kedua, hadangan di perjalanan sangatlah ekstrim. Ketika sampai di perairan, beruang grizzly sudah menunggu mereka setelah masa hibernasi musim dingin. Musim semi ini adalah musim pesta ikan salmon. Para beruang menunggu di berbagai tempat strategis, biasanya di undakan yang mengharuskan ikan salmon melompat. Hewan berbulu ini mengandalkan lemak ikan salmon untuk cadangan makanan musim dingin berikutnya.

Ketiga, jalan panjang dan terjal pun telah menunggu. Ada banyak jeram, air terjun, batu-batu, perairan dangkal yang menjebak, serta waktu yang mungkin lama untuk menunggu pertambahan debit air agar bisa meneruskan perjalanan.

Namun, bayangan akan bening dan damainya sungai kelahiran telah mematahkan semua argumen kesulitan di atas. Ke sanalah mereka harus kembali. Ke sungai kelahiran untuk meneruskan kehidupan yang baru.

Dalam sebagian besar proses mudik ikan salmon ini, terdapat persamaan dengan tradisi mudiknya orang-orang Islam di nusantara dalam momen lebaran. Kerinduan akan kampung halaman dan perjuangan untuk mencapainya menjadi titik temu terminologi mudik antar kedua makhluk ini.

(bersambung)

Artikel terkait
Pendapat
Pendapat 25-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Terhadap fenomena ini penulis teringat hadis Nabi Muhammad SAW bahwa persaudaraan muslim itu ibarat satu tubuh, bila satu anggota sakit, maka seluruh badan juga turut merasa sakit. Bila pandemi kita anggap sebagai ujian iman, kita harus melipatgandakan potensi rahmah terhadap sesama yang kita coba bangun selama ini.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 18-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Namaku Husein. Aku adalah perawat  junior  di sebuah rumah sakit pemerintah di kota besar di Pulau Sumatera. Akhir-akhir ini rasa khawatir mengalir deras dalam fikiranku. Betapa tidak, pekerjaanku cukup beresiko untuk terpapar.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 10-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Oleh karena itu, kita akan mencari alternatif kata Angpao yang sekiranya pas untuk dilekatkan pada momen Lebaran. pencarian akan dimulai dari istilah-istilah dalam tradisi Arab, Islam, Indonesia, dan Melayu. Penelusuran padanan angpao dari bahasa di atas dipandang pas karena dianggap sebagai  akar dari tradisi Lebaran idulfitri.

Terus Terus
Pendapat
Pendapat 08-Jun-2020
Muhammad Walidin
Kolumnis

Bila ditelusuri dari sunah Nabi Muhammad SAW dalam menyambut Idul Fitri,  memang ditemukan istilah yang bisa dikaitkan dengan angpao. Diketahui  ada tujuh kebiasaan beliau dalam menyambut hari ini:

Terus Terus