Muhammad bin al-Qasim: membawa Islam ke India

Sejarah Muhammad Walidin
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Muhammad Ibnu al-Qasim: membawa Islam hingga ke India
Muhammad Ibnu al-Qasim: membawa Islam hingga ke India © aalequtub.com

Khalifah Bani Umayyah ke-enam, Walid I (705-715) adalah khalifah yang berhasil memimpin kekuasaan secara politik dan ekonomi. Pada masanya, kemakmuran rakyat terjamin.

Di samping itu, expansi perluasan kekuasaan dinasti Umayyahpun berjaya. Pada masa ini, Islam tersebar hingga ke  Afrika (Barat),  Cina (Timur), dan India (Selatan).

Muhammad bin al-Qasim membawa Islam ke India 

Walid I memiliki tiga pemimpin pasukan terkemuka sebagai penakluk: Qutaybah bin Muslim, Muhammad bin al-Qasim, dan Musa bin Nusair. Pada kesempatan ini, kita akan membahas Muhammad bin al-Qasim.

Muhammad bin Qasim lahir sekitar 73 Hijriah di Taif, Mekkah. Ayahnya bernama Qasim bin Yusuf yang berasal dari bani Tsaqif. Ayahnya meninggal saat Muhammad masih kecil. Ibunya yang merawat dan bertanggung jawab terhadap pendidikannya.

Seorang pamannya pernah menjadi gubernur di wilayah Hijaz, kemudian menjadi gubernur di Irak. Namanya adalah Hajjaj bin Yusuf. Kepada Hajjaj inilah pendidikan lanjutan Muhammad tentang pemerintahan dan peperangan diserahkan.

Bahkan Hajjaj menikahkan anaknya bernama Zubaidah dengan Muhammad bin Qasim sebelum ditugaskan ke wilayah Sindh (Pakistan, India, Kashmir, Bangladesh)

Saat menuju Sindh dengan pasukannya, Muhammad bin Qasim masih berumur 17 tahun, sangat belia. Misi yang diamanahkan oleh mertuanya al-Hajjaj  adalah menghukum perompak yang menjarah 12 kapal laut pedagang muslim di wilayah Sindh pada tahun 90 Hijriah.

Sebenarnya, Hajjaj telah mengirimkan dua kali utusan untuk menangani masalah ini. Pertama, ia mengirim Abdullah bin Nabhan dan disusul dengan Budail bin Thahfah al-Bajali. Keduanya gugur dalam misi ini.

Akhirnya, Hajjaj yang terkenal bertangan besi itu bersumpah untuk mengalahkan para perompak Sindh.  Pilihannya jatuh kepada Muhammad bin Qasim, menantu sekaligus keponakannya. Ia memandang Muhammad bin Qasim sangat pemberani, berjiwa komando, dan memiliki keteguhan hati.

Membuka pintu berdirinya kerajaan-kerajaan Islam 

Muhammad bin Qasim berangkat dengan 20.000 pasukan. Peralalatan perangnya sangat lengkap. Pasukan ini menaklukan kota-kota yang dilalui. Ia bahkan membangun masjid di setiap kota yang ditaklukkan.

Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, akhirnya pasukan Muhammad bin Qasim sampai di tanah Sindh. Strategi membuat parit diterapkan dalam peperangan (92 Hijriah) ini yang membuat pasukan Raja Daher Sen tak berkutik bahkan tewas. Ibu kota Sindh jatuh ke tangan Islam.

Setelah kemenangan ini, Muhammad bin Qasim terus melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah sekitar untuk menyiarkan Islam. Dalam waktu empat tahun, Sindh dan Punjab telah dapat  ditaklukkan.

Muhammad bin Qasim memerintah dengan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Luhurnya nilai Islam menarik pemeluk Hindu dan Buddha yang terpinggirkan karena kasta.

Kedatangan Muhammad bin Qasim telah membuka pintu bagi berdirinya kerajaan Islam, seperti Dinasti Ghazni, Dinasti Ghuri, Kesultanan Delhi (1206-1526), dan Kesultanan Mughal (1526-1857).

Muhammad bin Qasim meninggal pada tahun pada tahun 95 Hijriah di Irak. Saat meninggal usianyapun masih sangat belia, 22 tahun. Ia meninggal di penjara akibat perselisihan politik dengan Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah setelah Walid I yang mengutusnya ke Sindh.

Kematiannya ditangisi tidak saja oleh orang Arab dan para muslim India. Tapi juga oleh orang Hindu dan Buddha India yang sangat mencintai gaya kepemimpinan pahlawan yang baik ini.