Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Musa bin Nusair: penakluk Andalusia

Sejarah 19 Jan 2021
Muhammad Walidin
Musa bin Nusair: penakluk Andalusia
Musa bin Nusair: penakluk Andalusia © heritage-history.com

Khalifah Bani Umayyah ke-enam, Walid 1 (705-715 Masehi) adalah khalifah yang berhasil memimpin kekuasaan secara politik dan ekonomi. Pada masanya, kemakmuran rakyat terjamin.

Di samping itu, ekspansi perluasan kekuasaan dinasti Umayyahpun berjaya. Pada masa ini, Islam tersebar hingga ke  Afrika (Barat),  Cina (Timur), dan India (selatan).

Pemimpin adil dan gagah berani

Walid I memiliki tiga pemimpin pasukan terkemuka sebagai penakluk: Qutaybah bin Muslim, Muhammad bin al-Qasim, dan Musa bin Nusair. Pada kesempatan ini, kita akan membahas Musa bin Nusair.

Membaca riwayat hidup Musa bin Nusair dari berbagai sumber membuat penulis bergetar. Ia tidak hanya seorang pemimpin adil dan gagah pemberani, tetapi juga cerdas, darmawan, serta ketakwaannya kepada Allah SWT sangat terjaga.

Musa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam penaklukannya. Ia menghargai hak asasi setiap manusia, tanpa membedakan latar belakang rasnya. Bagaikan selalu diberkati, belum pernah sekalipun ia kalah dalam peperangan.

Sebagai pemimpin adil dan gagah berani, Musa bin Nusair lahir yang lahir pada tahun 19 Hijrah (640 Masehi) di Damaskus ini mulai belajar strategi perang melawan pasukan angkatan laut Roma bersama Khalifah Mu’awiyah.

Ia mempelajari segala taktik peperangan pada saat ini dan mempraktekkannya saat ia memimpin kembali angkatan lautnya sendiri melawan angkatan laut Roma. Sebagai pemimpin yang cerdas, ia berhasil memadamkan pemberontakan suku Barbar di Maroko pada abad ke-8 Masehi.

Suku Barbar ini ingin keluar dari kekuasaan Dinasti Umayyah. Musa mengambil inisiatif membaurkan pasukan Arab dengan suku Barbar agar terjadi asimiliasi sehingga suku Barbar merasa dihormati. Akibat strategi ini, suku Barbar kembali masuk Islam dan tunduk di bawah Dinasti Umayyah.

Bahkan, Musa berhasil masuk lebih dalam menaklukkan wilayah Afrika Utara yang belum tersentuh. Atas prestasinya ini, pada tahun 705 Masehi, Khalifah Walid bin Abdul Malik mengangkatnya sebagai gubenur Afrika Utara dan sekitarnya.

Musa bin Nusair: penakluk Andalusia

Dari sinilah ia kemudian berfikir untuk menyebarkan Islam ke benua Eropa, tepatnya Andalusia. Dalam rangka syiar politis dan agama ke benua Eropa, ia mengutus Tarif bin Malik dengan 500 tentara dalam ekspedisi pertama ke Andalusia.

Pasukan ini menang dan membawa harta rampasan yang banyak. Kemudian ia mengirim ekspedisi kedua di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad dengan 7000 pasukannya yang berhasil menaklukkan Cordoba, Granada, Malaga, dan Toledo.

Tak lama kemudian ia juga berangkat ke Andalusia  membawa 10 ribu pasukan. Mereka menaklukkan Zaragoza, Aragon, Leon, Astoria, dan Galicia. Praktis, seluruh daratan Spanyol tunduk di bawah kekuasaan Umayyah pada tahun 715 Masehi.

Yang terindah dari pribadi Musa bin Nusair adalah ia tetap membiarkan suku bangsa dan agama wilayah yang ia taklukkan tetap memeluk kepercayaan masing-masing. Ia menjaga nilai-nilai toleransi yang teramat tinggi menggantikan kediktatoran yang biasa dipertontokan kerajaan Kristen. Mereka hanya dibebani pajak sebatas makanan pokok karena di bawah perlindungan Islam.

Musa akhirnya dipanggil pulang oleh Khalifah Walid ke Damaskus. Ia tak sempat bertemu Walid karena telah meninggal saat Musa masih di Palestina. Sepeninggal Walid, ia menjadi panglima angkatan bersenjata pada khalifah Sulaiman bin Abdil Malik.

Setelah banyak berkontribusi untuk pengembangan Islam, akhirnya Musa bin Nusair meninggal pada tahun 716 di Jazirah Arab.