Muslihat baik dan termakan budi

Agama Roni Haldi Alimi 07-Okt-2020
dreamstime_s_91648326
Muslihat baik dan termakan budi © Leo Lintang | Dreamstime.com

‘Muslihat baik dan termakan budi’ – inilah cerita yang melibatkan Nabi Yusuf alaihis-salam, berawal dari kesulitan pangan di negeri mereka. Dari situlah Nabi Ya’qub alaihis-salam menyuruh kesepuluh anaknya mencari gandum di kota. Terjadilah pertemuan tak disangka.

Nabi Yusuf a.s sangat hafal lagi kenal wajah sepuluh bersaudara seayah lagi serumah yang hadir di hadapannya. Tiada maksud menyusahkan apalagi usaha balas dendam. Karena rindu membuncah di dada, perpisahan tak diinginkan cukup lama memisahkan Yusuf a.s dengan saudara kandungnya (Bunyamin) dan ayahanda tercinta, Nabi Ya’qub a.s.

Menyiapkan bahan makanan

Itulah sebab muslihat baik hadir terpikir di pikiran Yusuf a.s begitu melihat wajah sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Rindu berat; ibarat bersarak serasa hilang, bercerai serasa mati.

Dan ketika ia (Yusuf a.s) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, ia berkata:

“Bawalah kepadaku saudara yang seayah dengan kalian (Bunyamin), tidakkah kalian melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?”

(Surah Yusuf, 12 : 59)

Takaran disempurnakan lagi ditambah isi sukatan. Yusuf a.s mengarahkan pegawainya menambah gandum isi karung sepuluh saudaranya. Takaran sukatan disempurnakan lagi, ditambah dengan syarat membawa saudara mereka yang seayah saat datang kali berikutnya.

Tak cukup dengan sukatan disempurnakan, tekananpun juga digunakan Yusuf a.s agar membuat bimbang sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Dilema melanda sepuluh saudara. Sukatan telanjur disempurnakan lagi ditambah, di sisi lain syarat membawa Bunyamin menghantui pikiran mereka.

Ditambah lagi kebanggaan dimuliakan oleh penguasa Mesir. “Maka jika kalian tidak membawanya kepadaku, maka kalian tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kalian mendekatiku.” (Surah Yusuf, 12 : 60)

Luluh juga hati mereka, dan tunduk juga akal pikiran sepuluh bersaudara itu terhadap muslihat baik Yusuf a.s. Mati ikan karena umpan, mati sahaya karena budi. Begitulah kata pepatah, manusia dapat dibujuk atau dikuasai dengan budi atau mulut manis.

Mereka berkata, “Kami akan membujuk ayahnya (untuk membawanya) dan kami benar-benar akan melaksanakannya.”

(Surah Yusuf, 12 : 61)

Termakan budi baik

Tak sampai di situ saja, Yusuf a.s mengarahkan pelayan-pelayannya untuk memasukkan barang-barang penukar yang dibawa saudara-saudaranya ke dalam karung mereka. Sukatan isi karung telah disempurnakan, syarat berisi tekanan disampaikan, dan barang penukar dikembalikan. Lengkap sudah muslihat baik yang dilakukan Yusuf.

Muslihat baik menjerat sempurna akal dan hati sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Tak mampu bergeser mengelak sedikit pun. Janji kepada Yusuf a.s telah mereka ikrarkan: akan kembali dengan membawa saudara mereka, Bunyamin. Bujuk rayu akan mereka lakukan demi perjumpaan dengan Yusuf dan mendapat penghargaan.

“Dan ia (Yusuf a.s) berkata kepada pelayan-pelayannya: Masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke dalam karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya apabila telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.” (Surah Yusuf, 12 : 62)

Baik baik memakan keladi

Keladi itu ada miangnya

Baik baik termakan budi

Budi itu ada hutangnya

Itulah kenyataan hidup. Lantaran tak hafal wajah dan tak ingat rupa saudara yang pernah mereka zalimi, akhirnya sepuluh bersaudara seayah lagi serumah itu masuk dalam muslihat baik Yusuf a.s.

Budi baik pangkal muslihat, dimakan umpan ditelan menjadi tanggungan utang di kemudian hari. Dalam hidup acap terjadi, terlalu banyak lagi sering menerima jasa baik hingga sulit memutuskan kalimat buruk pada hakikat buruk. Termakan budi kelukan lidah tuk berkata hakiakat sebenarnya. Termakan budi ternyata menggoyahkan prinsip pegangan diri.