Muslihat kebohongan memutuskan tali persaudaraan

Islam Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Muslihat kebohongan memutuskan tali persaudaraan
Muslihat kebohongan memutuskan tali persaudaraan © Rizami Annuar | Dreamstime.com

Bisakah seorang ayah sekaligus nabi dilanda kegalauan? Inilah yang dirasakan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam. Hatinya dibuat bimbang oleh anak-anaknya sendiri. Ketika itu, peserta mufakat jahat datang menemuinya.

Mereka tak lain adalah anak-anak kandungnya. Hanya saja, mereka membawa tipu muslihat hasil mufakat jahat. Hujah akal telah dirancang, dengan juru bicara pun didaulat bulat.

Muslihat kebohongan memutuskan tali persaudaraan

“Mereka berkata: Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya?”

(Surah Yusuf, 12:11)

Kalimat itu tajam menusuk rasa kebapakan Nabi Ya’qub a.s. Salah seorang yang didaulat mufakat berujar, “Wahai ayah kami! Mengapa  engkau tidak mempercayai kami, padahal kami menginginkan kebaikan baginya?”

Jelas, kalimat itu bukan sebuah permintaan – apalagi permohonan izin – kepada ayah mereka. Logika tajam nan mematikan tampak kental dalam dialog itu. Logika mereka nyata menutup saluran jawaban sang ayahanda. Pernyataan mereka sejak awal terang mematahkan lagi membantah apapun bentuk jawaban yang muncul dari Nabi Ya’qub a.s.

Posisi Nabi Ya’qub a.s dilematis. Terpojok. Sebagai seorang ayah, dikarenakan saking cinta dan kasih terhadap Nabi Yusuf a.s, ia seakan-akan abai terhadap hak-hak seorang anak. Bagaimanapun juga Yusuf perlu saat senggang untuk bermain.

Bersuka ria sebagaimana lumrah dilakukan anak-anak seusianya. Cinta ayahnya dalam hal ini seolah telah membatasi masa kanak-kanak Yusuf a.s. Ini satu sisi yang dirasakan Nabi Ya’qub a.s.

Di sisi yang lain, ia memang sangat cinta dan sayang Nabi Yusuf a.s hingga melindunginya untuk tidak jauh darinya. Di sinilah dilemanya: mengapa Nabi Ya’qub a.s tidak serta-merta mempercayakan saudara-saudara Yusuf untuk sekadar menggantikan peran dirinya dalam pengawasan?

Mengapa Nabi Ya’qub a.s meragukan saudara-saudara Nabi Yusuf a.s untuk menjalankan fungsi pengawasan? Ditambah lagi, para saudara Yusuf itu tak kalah mengaku cinta dan sayang kepada adik mereka. Dalam situasi demikian inilah, sebagai ayah dari seluruh anak-anaknya itu, Nabi Ya’qub menghadapi kebimbangan serius.

Alasan berbalut kebohongan

Dr. Fuad al-Aris mengomentari, “Saudara Yusuf memakai strategi memojokkan ayah mereka sehingga mengizinkan membawa Yusuf bermain. Mereka berprinsip demikian: hadapi lawan bicaramu dengan mengungkapkan persoalan besar yang bisa menyudutkannya;tempatkan mereka pada situasi kejiwaan yang sulit;selanjutnya, ajukan permintaan yang Anda inginkan. Maka, pastilah lawan bicaramu akan segera mengabulkannya.”

Rencana busuk saudara seayah lagi serumah tak berhenti hanya dengan memojokkan ayah mereka. Tahapan berikutnya adalah menutupi kebusukan hati mereka dengan alasan berbalut kebohongan.

Mereka berkata, “Padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.” Kedustaan ditutupi dengan kebohongan. Sama saja rusaknya. Benarlah apa yang diungkapkan oleh salah seorang sahabat Yahya bin Abi Katsir, “Tukang adu domba dan pendusta bisa merusak dalam satu jam, yang tidak bisa dirusak oleh tukang sihir dalam satu tahun.”

Buncahan hasad hati mereka balut dengan muslihat kebohongan. Mulut mereka terucap cinta dan sayang kepada Yusuf a.s tapi hakikat hatinya dipenuhi cemburu berujung makar. Kebohongan dijadikan perisai rusaknya hati mereka.

Kebohongan nyata telah mencabik-cabik nilai kemanusiaan. Tak kenal pelaku dan korban wujud seayah lagi serumah. Tak peduli pelaku dan korban merupakan satu keturunan dari seorang nabi.

Demikianlah, muslihat kebohongan dalam tempo yang singkat memutuskan tali persaudaraan. Hal serupa ini pun mudah ditemui di tengah kita hari ini. Tak hirau di antara pelaku dan korban, miliki hubungan dekat nan lama dalam organisasi ataupun pekerjaan, muslihat dan hasad terus dilancarkan.