Muslim dalam lingkungan sosial manusia

dreamstime_s_155115938
Pentingnya interaksi sosial © Szefei | Dreamstime.com

Lezatnya iman apabila sudah mampu dirasakan oleh seorang mukmin dalam ruang kepribadiannya, maka akan menjelma menjadi pesona sosial yang sangat menawan. Khusyuk diri yang dimiliki seorang mukmin akan berdampak pada ‘atha ijtima’i (kontribusi sosial) dan keharmonisan sosial.

Di sini, Nabi kita Muhammad SAW mengajarkan kepada kita dengan tiga kalimat yang sarat dengan nilai-nilai perbaikan diri dan pentingnya melakukan interaksi sosial. Di saat Baginda bersabda: “Takwalah kamu di manapun kamu berada, ikuti keburukan itu dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya dan berinteraksilah pada manusia dengan akhlak yang hasan.” (Hadis riwat Imam At-Tirmidzi)

Dan salah satu bentuk interaksi kita pada lingkungan sekitar kita adalah adanya hasaasiah (kepekaan) yang kuat terhadap permasalahan yang terjadi di dalamnya. Perhatian dan fokus kita terhadap bi-ah (lingkungan), baik yang berkaitan dengan bi-ah da’awiah (lingkungan dakwah), bi-ah ijitima’iah (lingkungan sosial) dan bi-ah ta’limiah (lingkungan pendidikan)  yang terjadi dalam tataran keluarga maupun masyarakat adalah cerminan kuat dari keimanan kita yang telah tershibghah dengan nilai-nilai kebenaran Islam.

Bagaimana Rasulullah SAW melakukan hal ini dalam keluarga dan masyarakatnya. Baginda dengan gigih telah mempengaruhi pamannya, Abu Thalib r.a untuk memeluk Islam sehingga detik-detik akhir hidupnya sang paman. Ia telah menyeru bani-bani Quraisy pada waktu itu seraya berkata di atas Bukit Shofa: “Wahai Bani Quraisy, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah dirimu dari api neraka, wahai Fathimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka.” (HR Muslim)

Begitu juga, Rasulullah SAW telah terlibat langsung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masyarakatnya sebelum nubuwwah iaitu menjadi Nabi, seperti berperan aktif dalam Perang Fijar; peperangan yang terjadi antara Quraisy bersama Kinanah dengan Ais Qailan, Hilful Fudlul; kesepakatan untuk melindungi orang-orang yang terzalimi dan pembangunan Kakbah.

Terjadi interaksi di antara manusia dalam kehidupannya adalah sesuatu yang harus dilakukan. Manusia tidak bisa hidup dalam kesendiriannya dan jauh dari masyarakatnya. Karena itu sudah menjadi kodrat dan karekter manusia dalam penciptaannya. Dan termasuk amal sosial di masyarakat ketika salah satu di antara mereka saling memperhatikan, saling membantu, saling menolong dan saling membantu.

Rasulullah SAW dalam sabda Baginda menganjurkan ummatnya untuk melakukan interaksi sosial dalam masyarakat. Karena manusia Muslim yang terlibat aktif di masyarakat dan sabar dalam menghadapi apapun yang terjadi di tengah-tengah mereka, itu lebih baik daripada manusia muslim yang tidak terlibat dalam urusan masyarakatnya.

“Jika seorang Muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR Imam At-Tirmidzi)