Mustafa Luthfi al-Manfaluthi

Mustafa Luthfi al-Manfaluthi © commons.wikimedia.org

Siapakah yang tidak mengenal polemik sastrawan Lekra dan Menikebu tahun 1962? Saat itu Hamka dituding menjiplak karya al-Manfaluthi berjudul Magdalena untuk novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Harian Bintang Timur menurunkan tulisan berseri untuk menyerang Hamka.

Hamka tidak menjawab tudingan. Ia tahu ini bukan hanya masalah sastra, tapi ada unsur politik di dalamnya. Ia berdarah Masyumi, sementara lawan tandingnya adalah Lekra, sayap Partai Komunis Indonesia. Hamka memilih agar polemik ini diteliti oleh panitia kesuastraan di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia untuk membuktikan apakah karyanya plagiat, saduran, atau asli.

Sejak saat itu, nama Mustafa Luthfi al-Manfaluthi akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sastrawan ini memperkenalkan aksi menyadur karya asing, terutama karya sastrawan Perancis ini ke dalam bahasa Arab. Menyadur memang bukanlah menerjemahkan secara letterlijk, tetapi menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita.

Karya saduran al-Manfaluthi adalah Majdulin, saduran dari Souse s Telleuls karya Alfonso Carr, Al-Fadlilah, saduran dari Paul et Virginie karya Bernadin de Saint Pierre, As-Syair, saduran dari Cyrano de Bergerac  karya Edmon Rosten, dan Fi Sabil at-Taj, saduran dari karya yang ditulis oleh Francois Coubethe. Di samping menyadur, ia juga menulis sendiri dua antologi cerpen, al-Ibarat dan al-Mukhtarat.

Al-Manfaluthi dilahirkan pada tahun 1876 di Manfalut yang terletak di provinsi Asyut, Mesir. Ayahnya, Sayyid Muhammad Luthfi  masih mempunyai garis keturunan dengan nabi Muhammad SAW melalui darah Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sedangkan ibunya, Siti Hanim adalah keturunan Turki Corbaji.

Pendidikan dasar al-Manfaluthi berlangsung secara tradisional di Kuttab. Saat usia 11 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Pada usia itu pula ia mulai belajar di al-Azhar, Kairo (tahun 1888). Di al-Azhar, ia berjumpa dengan Muhammad Abduh (w. 1905) yang mengajar tafsir al-Qur’an dan balaghah, sehingga pada akhirnya ia mulai mendalami ilmu sastra darinya.

Sejak tahun 1905, al-Manfaluthi tinggal di kampung halamannya, Manfalut. Di tanah kelahirannya itu ia sering  menyelenggarakan seminar sastra. Pemikirannya ditulis dalam bentuk artikel maupun syair yang dikirim ke surat kabat al-Mu’ayyad.  Pada tahun 1908 ia kembali ke Kairo untuk memimpin surat kabar  al-Mu’yyad. Kemudian ia diangkat oleh menteri pendidikan Sa’ad Zaglul sebagai direktur bahasa Arab di departemennya.

Ketika Theodore Roosevelt (Presiden Amerika Serikat, 1901-1912) datang ke Khortum menghasut rakyat agar memihak Inggris, Manfaluthi tampil melawan dengan menulis artikel ‘Pengadilan Roosevelt di depan mahkamah pengadilan.

Dunlop, konsultan Departemen Pendidikan mesir (petugas pemerintah kolonial Inggris di Mesir) marah dan bermaksud memecatnya, tetapi dibela oleh Sa’ad Zaglul. Ketika Sa’ad Zaglul menjadi menteri kehakiman, ia diberi jabatan yang sama di departemennya. Al-Manfaluthi wafat di Kairo pada tahun 1924.