Nabi Ibrahim a.s – kejahatan tetap merugi

Islam Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Nabi Ibrahim a.s - kejahatan tetap merugi
Nabi Ibrahim a.s - kejahatan tetap merugi © Heru Anggara | Dreamstime.com

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘jahat’ adalah kelakuan, tabiat, ataupun perbuatan seseorang yang buruk atau sangat tidak baik. Adapun kejahatan dimaknai sebagai ‘perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis’.

Kejahatan bisa dilakukan oleh satu seorang saja, bisa pula berkelompok.

“Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.”

(Surah al-Anbiya, 21 ayat 70)

Keberanian dan kecerdasan Nabi Ibrahim a.s

Ayat di atas merupakan rangkaian panjang kisah keberanian dan kecerdasan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alayhis-salam, pengemban risalah dakwah ilallah. Di usianya yang masih tergolong muda, Nabi Ibrahim telah menampilkan semangat dakwah yang egaliter tak tedeng aling-aling.

Berawal dari seruan menghambakan diri semata-mata untuk Allah yang dianggap angin lalu belaka, Nabi Ibrahim a.s menjalankan rencananya menghancurkan sejumlah berhala. Berhala-berhala itu akhirnya dibuat berkeping-keping kecuali menyisakan yang paling besar. Disisakan agar jadi bukti penggugat logika.

Kemarahan terjadi di tengah negeri. Orang-orang berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan- tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.”

Nama Nabi Ibrahim a.s pun disebut. Protes dan ketidaksukaan Nabi Ibrahim terhadap tuhan mereka pun dihubungkaitkan. Lalu dijadikan alasan untuk menumpahkan seluruh kesalahan pada Nabi Ibrahim.

Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”

Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.”

Maka, mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).” Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata), “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.”

Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kalian? Celakalah kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah! Tidakkah kalian mengerti?”

Dialog itu sebenarnya mampu membuka kerancuan berpikir mereka. Tapi, tetap saja hasilnya belum mengubah keadaan. Kaum Nabi Ibrahim a.s enggan berpaling dari kerancuan berpikirnya. Yang kemudian terjadi malah mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat!”

Kejahatan tetap menemui kerugian

Allah subhanahu wa ta’ala dalam kisah penentangan terhadap dakwah Nabi Ibrahim ‘alayhis-salam menggunakan kata ‘Al-kaidu’. Dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bentuk pembalasan Raja Namrudz terhadap perbuatan Nabi Ibrahim, yakni membakar hidup-hidup.

Al-Kaidu adalah usaha terencana tersembunyi untuk menyingkirkan musuh tanpa diketahui siapa pun. Sering juga diistilahkan dengan ‘muslihat jahat’. Semua potensi akan dikerahkan demi mencapai tujuan yang diinginkan.

Al-kaidu atau muslihat jahat itu adalah wujud ketakutan dan ketidakberdayaan diri atau kelompok menghadapi langsung musuhnya. Itulah yang disampaikan oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam tafsirnya.

“Bahwa kejahatan tetap dan pasti menemui kerugian. Cepat ataupun lambat. Karena janji Allah itu pasti. Kami menjadikan mereka itu orang- orang yang paling rugi.”

Jadi, jangan pernah membuka pintu bagi kejahatan yang kecil sekalipun, karena kejahatan yang lebih besar akan silih berganti menyelinap menghampiri. Kejahatan, besar ataupun kecil, pelakunya pasti akan ditimpa dan diimpit kerugian.

Kebaikan, sebaliknya, bagaimanapun juga lebih kuat dari kejahatan. Cinta lebih kuat dari kebencian; cahaya lebih kuat dari kegelapan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.