Nabi Muhammad SAW dan kisah segelas susu

Islam Asna Marsono
Asna Marsono
Nabi Muhammad SAW dan kisah segelas susu
Nabi Muhammad SAW dan kisah segelas susu © Byelikova | Dreamstime.com

Ada sekelompok besar orang yang bermigrasi ke Madinah. Oleh karena itu mereka membutuhkan tempat berlindung. Semua muslim yang telah bermigrasi dari Mekkah ke Madinah telah dipindahkan ke sebuah rumah di mana mereka telah tinggal untuk sementara waktu sampai mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Tetapi ketika jumlah orang yang masuk Islam meningkat dan lebih banyak orang datang ke Madinah, hampir sulit untuk mengelola semuanya.

Kisah Rumah Penampungan

Oleh karena itu, tempat penampungan dibangun. Begitu muslim baru tiba, mereka pergi ke masjid, yang menjadi rumah mereka. Tempat penampungan itu dikenal sebagai ‘Ash-Shuffah’.

Pada masa itu, jumlah orang di tempat penampungan bervariasi. Terkadang ada sepuluh dan lain kali hingga 70 orang. Sebagian besar tinggal di sana untuk waktu yang terbatas.

Setelah beberapa waktu orang-orang yang tinggal di Ash-Shuffah telah mencapai titik di mana mereka bahkan tidak memiliki pakaian yang baik untuk dipakai. Mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan.

Ketika ada acara khusus, Nabi Muhammad SAW selalu memanggil orang-orang dari tempat penampungan. Salah satu sahabat Baginda yang paling terkenal adalah Abu Hurairah r.a.

Abu Huraira r.a meriwayatkan, “Begitu Nabi SAW melihat saya sangat lapar sehingga saya lemah dan kelelahan tergeletak di tanah. Baginda memanggil saya ke rumahnya dan bertanya kepada istriny,a apakah ada sesuatu untuk dimakan atau diminum. Istri Baginda berkata, ‘seorang tetangga memberi mereka segelas susu.”

Beliau bahagia! Segelas susu… Itu dapat memuaskan rasa laparnya. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Pergilah dan panggillah orang-orang dari tempat penampungan (As-Shuffah).” Ada sekitar 40 orang di sana!

Narasi hadis riwayat Bukhari

Abu Hurairah melanjutkan narasi dan berkata: “Perintah Nabi membuat saya kesal, dan saya berkata pada diriku sendiri, ‘Bagaimana susu kecil ini akan cukup bagi orang-orang As-Shuffah?’ pikir saya lebih berhak minum dari susu itu untuk memperkuat diri saya sendiri, tetapi lihatlah!

Rasulullah SAW datang untuk memerintahkan saya untuk memberikan susu itu kepada mereka. Saya bertanya-tanya apa yang akan tersisa dari susu itu bagi saya, tetapi bagaimanapun, saya harus mematuhi Allah dan Rasul-Nya jadi saya pergi ke orang-orang As-Shuffah untuk memanggil mereka.

Mereka datang dan meminta izin Nabi untuk masuk. Mereka diterima dan duduk di rumah. Rasulullah SAW berkata, “Wahai Abu Hirr!’ Aku berkata, ‘Labbaik, Wahai Rasul Allah!’ Baginda berkata, ‘Ambillah dan berikanlah ini kepada mereka.”

Jadi saya mengambil mangkuk (Susu) dan mulai memberikannya kepada satu orang yang akan meminum isinya dan mengembalikannya kepada saya, di mana saya akan memberikannya kepada orang lain yang pada gilirannya, akan meminumkan isinya dan mengembalikannya kepada saya, dan saya kemudian akan menawarkannya kepada orang lain yang akan meminumkan isinya dan mengembalikannya kepada saya.

Akhirnya, setelah seluruh kelompok meminum isinya, hanya tersisa saya dan Nabi Muhammad SAW yang belum mendapat bagian susu. Baginda mengambil mangkuk dan meletakkannya di tangannya, menatap saya, tersenyum, dan berkata, “Wahai Abu Hirr!’ Saya menjawab,’Labbaik, Wahai Rasul Allah!’ Baginda bersabda, ‘Hanya tersisa kau dan aku.’

Saya berkata, ‘Engkau telah mengatakan yang sebenarnya, ya Rasul Allah!’ Baginda menjawab, ‘Duduklah dan minumlah.’ Saya duduk dan minum. Baginda bersabda, ‘Minumlah,’ dan saya minum.

Rasulullah SAW terus mengatakan kepada saya berulang kali untuk minum, sampai akhirnya saya berkata, ‘Tidak, cukup. Demi Allah yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, sudah tidak ada tempat untuk minuman lagi dalam tubuhku.’

Baginda bersabda, ‘Serahkan padaku.’ Maka tatkala saya memberikan kepadanya mangkuk, Baginda memuji Allah dan meminum sisa dari susu tersebut.”

(Hadis riwayat Bukhari)