Nabi Musa a.s belajar dari perjalanan dengan nabi Khidir a.s

dreamstime_s_6826644
Gunung Sinai (Jabal Musa) atau Gunung Musa a.s di Semenanjung Sinai, Mesir © Vladimir Melnik | Dreamstime.com

Bagaimana nabi Musa a.s belajar dari perjalanan dengan nabi Khidir a.s? Al-Quran menceritakan perjalanan nabi Musa ketika menemui seorang hamba saleh yang sering disebut nabi Khidir, seperti disabdakan Allah SWT dalam surat al-Kahfi, ayat 60-82.

Perjalanan yang menguji kesabaran terhadap sesuatu yang ghaib dan akan terjadi, namun cara mengantisipasinya dengan cara yang sulit diterima nalar sehat manusia.

Tidak bertanya selama perjalanan

Setelah nabi Allah Musa a.s bertemu dengan nabi Khidir a.s dan mengutarakan maksud dan tujuan, nabi Khidir mengajukan syarat. Syarat yang ringan sebenarnya, yaitu untuk tidak bertanya terhadap segala apa yang akan terjadi selama perjalanan.

Perjalanan di mulai dengan menaiki perahu menyeberang sungai. Ketika tiba di seberang, tiba tiba nabi Khidir a.s melubangi perahu yang mereka tumpangi sehingga tenggelam. Nabi Musa a.s protes, tapi nabi Khidir mengingatkan kesepakatan untuk tidak bertanya sebab nanti akan dijelaskan.

Merekapun berjalan memasuki suatu kampung. Ketika berpapasan dengan seorang anak kecil, tiba tiba nabi Khidir a.s membunuhnya. Nabi Musa a.s pun protes. Tapi kembali nabi Khidir mengingatkan kesepakatan untuk tidak bertanya.

Merekapun melanjutkan perjalanan dan sampailah mereka di sebuah perkampungan yang penduduknya pelit, enggan memberi makan. Namun anehnya, ketika melewati sebuah rumah yang dindingnya hampir roboh, nabi Allah Khidir a.s menegakkan dinding tersebut.

Ini juga yang memancing nabi Musa a.s bertanya. Dan pertanyaan ini juga yang mengakhiri pertemuan mereka berdua. Nabi Khidir a.s menjelaskan satu persatu dari rahasia yang ia lakukan. Bahwa ia mendapatkan ilmu dari Allah Yang Maha Mengetahui.

Tiga fikih yang diajarkan nabi Khidhir a.s

Tentang perahu yang dibocorkan, bahwa ada seorang raja yang senang merampas setiap perahu yang bagus. Maka dengan membocorkannya, perahu tersebut selamat. Tentu bagi nelayan yang miskin, menambal bocor jauh lebih mudah dari pada membeli perahu yang baru.

Ini mengajarkan kepada kita fiqh muwazanah, yaitu menimbang segala sesuatu berdasarkan maslahat. Atau mengambil yang lebih ringan bahayanya dari dua kemungkinan buruk.

Tentang membunuh anak, bahwa anak tersebut kelak kalau dewasa akan memaksa kedua orang tuanya yang beriman untuk menjadi kafir dan sesat. Ini mengajarkan pada kita Fiqhut Tawaqqu’at. Yaitu fikih prediksi terhadap kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan analis data data dan ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan.

Tentang rumah yang dirobohkan, bahwa ditegakkannya kembali dinding yang roboh karena di bawah rumah tersebut tersimpan harta dua anak yatim yang kelak setelah mereka berdua dewasa akan berguna bagi keduanya. Ini mengajarkan kepada kita fiqhus siyasah. Yaitu sebagai pemimipin harus memiliki sifat sifat terpuji, seperti empati dan jiwa melindungi.

Tiga fikih inilah yang hendak diajarkan nabi Khidhir a.s kepada nabi Musa a.s. Dan ini syarat minimal dari setiap orang yang akan menjadi pemimpin.

Sebab pemimpin akan banyak berhadapan dengan masalah dan problema yang memerlukan pemecahan yang arif, selain sifat sabar. Dengan memahami tiga fikih ini akan mudah baginya untuk menghadapi dan mengatasi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup.

Sebab itu belajar adalah sangat penting sebelum seseorang menjadi pemimpin. Umar r.a berkata: “Belajarlah sebelum engkau memimpin.”