Nabi Yusuf a.s dan cara menjadi pemimpin

dreamstime_s_194625341
Belajar cara menjadi pemimpin © Aisha Nuraini | Dreamstime.com

Setelah tujuh tahun mendekam di penjara, Nabi Yusuf a.s menjadi pemegang perbendaharaan negeri Mesir. Pasti orang bertanya, kok bisa ya orang yang selama tujuh tahun tak pernah melihat dunia luar memegang jabatan begitu penting.

Mari kita membaca dari awal cerita ketika Nabi Yusuf a.s menjadi budak, lalu dijual di pasar, di kota Mesir. Lalu dibeli seorang Raja. Setelah itu, Baginda memasuki dunia baru. Baginda hadir di istana dengan segala fasilitas dan pelayanan.

Nabi Yusuf a.s hadir di tengah hiruk pikuknya permasalahan pemerintahan, dari cara mengelolah negara, menerima tahu, memutuskan perkara dan lain-lainnya. Melihat langsung, bukan hanya sehari dua hari, bahkan bertahun-tahun betapa peliknya urusan negara.

Di samping itu, Nabi Yusuf a.s banyak kenal orang dan tipe-tipenya. Dari sini, Baginda banyak belajar bagaimana cara memimpin dan menjadi penguasa. Berkata Zamakhsyari mengomentari ayat: Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak.”

“(Boleh jadi dia bermanfaat kepada kita). Semoga apabila dia terlatih, berinteraksi dengan berbagai urusan dan memahami prosesnya, kita dapat memenangkan dengannya apa-apa yang sedang kita jalani. Lalu akan memberikan manfaat bagi kita dengan kemampuan dan amanatnya, atau kita angkat sebagai anak dan mendudukkannya sebagai anak.”

Itu sebabnya dalam kondisi seperti itu Allah SWT mengatakan:”Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi.”

Jadi beradanya Nabi Yusuf a.s di lingkaran istana adalah kehendak Allah SWT, agar Baginda belajar dan dapat menafsirkan kejadian-kejadian (ta’wilul ahadis), terutama ta’bir mimpi.  Maka ketika sudah waktunya untuk menjadi pemimpin, Baginda sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman bagaimana cara memimpin.

Dari sini, kita bisa memahami perkataan Umar r.a: (Tafaqqqahu qala an tasudu) “Milikilah pemahaman yang lebih dalam sebelum memimpin.”

Jadi, seharusnya pemimpin itu dipersiapkan dengan cara belajar terus menerus dan menimbah pengalaman langsung dari pelaku sejarah, sehingga ketika ia menjadi pemimpin ia tidak gagap menangani berbagai kasus sebab telah memiliki ilmu sekaligus pengalaman.