Nabi Yusuf a.s – dipisahkan dan dipertemukan takdir

Sejarah 18 Feb 2021 Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Nabi Yusuf a.s - dipisahkan dan dipertemukan takdir
Nabi Yusuf a.s - dipisahkan dan dipertemukan takdir © islamiclandmarks.com

Baik dan buruk adalah ketentuan pasti tak terbantahkan. Seperti api yang membakar, air yang mengalir dan angin yang berhembus. Begitulah juga dengan al-haq dan al-bathil tak bisa bertemu berpadu.

Ketentuan itu dinyatakan sebagai sunnatullah.

Nabi Yusuf a.s – dipisahkan dan dipertemukan takdir

Demikian Allah Taala mengingatkan bahwa pemisahan antara kebaikan dan keburukan dan pelaku keburukan itulah golongan yang merugi. Selaras dengan firman-Nya dalam suratal-Anfal (8), ayat 37:

“Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya dikumpulkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Kebaikan dan keburukan tak bisa ditutup-tutupi. Keduanya akan tersingkap lebar terbuka diketahui. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga. Serapi apapun bangkai ditutupi, tetap saja bau busuknya menyengat menyebar tercium kemana-mana. Begitulah pepatah lama menyebutkan.

Begitupula kebohongan dan kecurangan, meski disembunyikan, suatu saat akan terbongkar. Kebenaran akan muncul ke permukaan dengan jalan yang terkadang sama sekali tidak terduga.

Masa beredar, waktu datang dan pergi silih berganti. Puluhan tahun ternyata ampuh mengosongkan ingatan sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Ingatan melayang pada perbuatan buruk licik berujung makar jahat penyingkiran Nabi Yusuf a.s. Saat hasad jahat menguasai hati, menyeret diri menzalimi saudara sendiri. Sumur pun menjadi saksi bisu khianat serumah.

Ingatan penuh telah kembali hadir sempurna. Hasad jahat bersebab hanya Yusuf a.s lebih disayang. Makar jahat teringat tepat tak terbantahkan. Wajah Yusuf yang mereka benci hingga didengki, hingga berujung sampai ke sumur penyingkiran, tergambar utuh dihadapan mereka. Bukti fisik kezaliman buah benci,ditambah saksi korban penyingkiran, tak terbantahkan di depan mata.

Jangan terlalu membenci, jika nanti akan mencintai

Pertanyaan atas bukti kelemahan ingatan mereka, telah dijawab tegas oleh Yusuf a.s. Jawab bernilai dakwah jauh dari menampakkan kesombongan diri karena kuasa atas mereka. “Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.”

Ajakan dakwah Nabi Yusuf a.s disambut haru permohonan maaf oleh sepuluh saudaranya. Dan Yusuf menutup dialog bersama sepuluh bersaudara seayah lagi serumah dengan nasihat Rabbnya:

“Ia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

(Quran surah Yusuf, 12:92)

Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam kitabnya al-Hikm berpesan, “Seharusnya balak yang menimpa padamu terasa ringan karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu. Allah yang menimpakan kepadamu takdir-Nya itu, Dia pula yang telah biasa memberi sebaik-baik apa yang dipilihkan-Nya untukmu. Dialah yang membiasakan engkau merasakan sebaik-baik pemberian-Nya.”

Perpisahan duka Nabi Yusuf a.s dengan ayahnya – akibat makar jahat saudaranya – telah merangkai mata rantai takdir pertemuan penuh bahagia seluruh keluarga Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam. Perpisahan yang awalnya disangka lagi dirasa buruk, rupanya membawa ke pertemuan akhir yang penuh bahagia merona.

Ketahuilah bahwa Allah Taala yang memberi sesuatu yang dirasa tidak baik, yakinlah bahwa bisa jadi itu terbaik untuk kita. Di lain waktu, Allah memberi sesuatu yang dirasa baik, yakinlah bahwa bisa jadi itu terburuk untuk kita. Jangan terlalu membenci, jika nanti akan mencintai.