Nabi Yusuf a.s – hidup menjejak

Masyarakat Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Nabi Yusuf a.s - hidup menjejak
Nabi Yusuf a.s - hidup menjejak © Oleksii Yaremenko | Dreamstime.com

Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis-salam adalah sebaik-baik kisah wahyu Allah subhanahu wa ta’ala. Utuh tiada sela, pelipur lara hati Habibullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Pesan masa depan tersampaikan bagi yang bertanya.

Nabi Yusuf a.s – hidup menjejak

Nabi Yusuf a.s sebagai aktor utama memulai cerita hidup dalam rumah penuh hasad. Kedengkian saudara seayah lagi serumah mengantarkan aktor utama ke dalam gelapnya sumur, dinginnya penjara fitnah. Namun, akhirnya adalah bahagia sepenuh syukur kepada Allah Taala.

“Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.”

(Quran surah Yusuf, 12:7)

Imam Ibnu Qayyim dalam muqaddimah kitab Madarijus-Salikin menuliskan: “Kesempurnaan manusia tidak bisa terjadi kecuali dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat dan amal saleh ini tidak lain adalah hidayah (petunjuk) dan agama yang benar. Serta upaya manusia itu untuk menyempurnakan selain dirinya dalam ilmu dan amal saleh.”

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada Hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

(Quran surah al-i Imran, 3:185)

Disebutkan dalam al-Hilyah, suatu saat Sufyan ats-Tsauri didapati gelisah dan resah. Rupanya ia tengah memikirkan akhir hayatnya. Sembari meneteskan air mata, ia berkata, “Aku khawatir kalau (ketentuanku) di dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) termasuk yang sengsara (celaka). Dan keimanan dicabut manakala kematian menjemput.”

Sudah seindah apa drama kehidupan kita?

Cermati dengan hati serta akal sehat kita ungkapkan mendalam dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Kalian hanyalah seorang tamu, dan hartanya adalah barang pinjaman. Seorang tamu pasti akan pergi, dan barang pinjaman akan dikembalikan kepada pemiliknya.”

Mau dibawa kemana hidup kita ini? Sadarkah kita bahwa kita sendirilah aktor utama dalam drama kehidupan ini? Kita juga sama sebagaimana Nabi Yusuf a.s melakoni peran utama dalam kisahnya.

Lantas bagaimana ending hidup kita di dunia fana ini? Kiai Wahid Hasyim berujar, “Tak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Maka, ukirlah cerita indah sebagai kenangan. Karena dunia memang sebuah cerita.”

Sudah semenarik dan seindah apa drama kehidupan kita perankan selama ini? Sudahkah cukup membuat kesan indah mendalam saat kita telah tiada? Jika belum jawabannya, maka kita masih ada kesempatan untuk menata ulang peta jalan cerita hidup kita menuju akhirat hakiki. Hidup itu hanya sekali, hiduplah berarti.