Nabi Yusuf a.s – memaafkan tanpa mencerca

Sejarah 07 Mar 2021 Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Nabi Yusuf a.s - memaafkan tanpa mencerca
Nabi Yusuf a.s - memaafkan tanpa mencerca © Odua | Dreamstime.com

Salah satu hal yang paling sulit dalam kehidupan ini adalah mengakui kesalahan diri. Pengakuan atas kesalahan merupakan sikap terberat dari diri dalam keseharian.

Kejujuranlah yang lebih membantu dalam memecahkan persoalan dibandingkan pembenaran semu terhadap kumpulan kesalahan diri. Terbuka mengaku salah adalah hakikat kejujuran pada diri sendiri.

Kepasrahan diganti kekuatan untuk keluar dari masalah

“Kami wahyukan kepadanya: Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”

(Quran surah Yusuf, 12:15)

Nabi Yusuf a.s disingkirkan wajahnya dari ayahnya Nabi Ya’qub‘alaihis-salam. Sendiri meratapi nasibnya dalam kegelapan sumur penyingkiran. Tubuh kecil Yusuf sudah menanggung berat beban kezaliman.

Pikiran dan hati Yusuf a.s telah dipaksa didera berpikir mencari jalan keluar dari makar jahat saudara seayah lagi serumah. Beban di pikiran seakan-akan hadir sebelum waktunya.

Akan tetapi, kelemahan dalam kepasrahan diganti kekuatan besar untuk bangkit keluar dari masalah yang menekan mengimpit. Tanda kemuliaan pada mimpi menjadi jaminan perlindungan melekat pada diri Nabi Yusuf a.s.

Dijauhkan dari cinta kasih ayahnya tapi sangat dekat dengan kasih sayang Allah yang Maha Menepati Janji. Makar sumur bukan menjauhkan,malah semakin mendekatkan. Kedalaman sumur bukan menenggelamkan, malah mengangkat bangkit lagi meninggikan. Kegelapan sumur bukan menakutkan, malah membahagiakan.

“Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka ia (Yusuf) mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalinya (lagi) kepadanya.”

(Quran surah Yusuf, 12:58)

Puluhan tahun ternyata waktu yang tidak singkat. Perjalanan masa telah menghapus memori ingatan sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Makar jahat terhadap saudara mereka dilupakan tiada berbekas, seakan tak pernah terjadi apa pun pada beberapa tahun silam.

Nabi Yusuf a.s – memaafkan tanpa mencerca

Mara bahaya yang dibuat saudara-saudaranya pada masa lalu selalu mengintai Nabi Yusuf a.s. Pelanduk melupakan jerat tapi jerat tak melupakan pelanduk. Begitulah kenyataan pahit berlaku.

Namun, berikutnya jerat-jerat itu malah tak lagi kenal pelanduk incarannya. Di lain pihak, Yusuf a.s sangat mengenal jelas perawakan dan tutur kata sepuluh saudaranya.

Bagaimanapun juga, yang dizalimi tentu hafal mengenal siapa yang menzalimi. Apatah lagi makar jahat kezaliman bukan dari orang lain, melainkan kawan bermain sepenanggungan.

Sikap memaafkan Nabi Yusuf a.s terhadap sepuluh saudaranya tak diiringi cerca hinaan. Pertemuan berharga di antara saudara telah menyelesaikan sangkut paut duka lama. Saling memahami posisi, saling membuka ruang hati.

Memulangkan semua yang telah berlaku atas mereka kepada Allah yang Maha Mengatur lagi Mahateliti. Allah menyayangi mereka, dan mereka masih menyadari kasih sayang Allah terhadap mereka.

Ahli hikmah berujar, “Apabila terbuka pintu kebaikan untuk salah seorang dari kalian, maka bergegaslah menujunya, karena kita tak tahu kapan pintu itu tertutup baginya.”

Terbuka mengaku salah itu memang berat. Akan tetapi, memaafkan tanpa cerca itu lebih berat. Salah satu pintu kebaikan hidup adalah memaafkan tanpa mencerca. Kata maaf takkan sepadan menyatu dengan kata cerca. Jika maaf diberikan di lisan, janganlah iringi cerca di hati.