Nabi Yusuf a.s – mimpi dan kenyataan

Iman Roni Haldi Alimi 02-Okt-2020
dreamstime_s_141273514
Nabi Yusuf a.s - mimpi dan kenyataan © Oleksii Yaremenko | Dreamstime.com

Wajah rupawan dihiasi akhlak menawan, jantung hati qurrata ‘aini. Itulah sebabnya kesempurnaan kasih sayang dan cinta tak terpisahkan sang ayah sekaligus Nabi bernama Ya’qub a.s kepada anaknya, Yusuf a.s.

Lewat ungkapan utuh lagi mendalam, Allah subhanahu wa ta’ala meyakinkan bahwa Yusuf a.s adalah sebaik-baik kisah. Para mufasir mengatakan bahwa surat Yusuf adalah salah satu di antara surat dalam al-Quran yang diturunkan untuk menghapus duka di hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala tekanan hebat mendera – berupa cemoohan, hinaan hingga kekerasan yang mengancam nyawa.

Kebenaran mimpi terwujud nyata

Kisah ini dipastikan meringankan beban duka, menghibur jiwa lara bagi para penikmat babak demi babak kisah berantai tak berderai. Diawali dengan mimpi seakan tak bertepi, puluhan tahun dilalui sedih senang silih berganti, bukti kebenaran mimpi terwujud nyata sebagaimana jaminan Rabbul ‘izzati.

“Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi.”

(Surah Yusuf, 12 : 15)

Sewaktu kecil, Yusuf pernah bermimpi ia melihat sebelas bintang, matahari, dan rembulan semua sujud kepadanya. Ia pun menceritakan mimpi itu kepada ayahnya.

 (Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,“Wahai Ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

(Surah Yusuf, 12 : 4)

Abu Usman an-Nahdi meriwayatkan dari Sulaiman bahwasanya jarak masa antara mimpi Nabi Yusuf a.s dan kenyataannya adalah 40 tahun. Abdullah Ibnu Syaddad mengatakan bahwa masa itulah batas maksimal kenyataan suatu mimpi. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Setelah puluhan tahun, berawal dari pilihan sadar akan makar jahat saudara seayah lagi serumah terhadap Yusuf a.s. Sumur menjadi saksi kebusukan hati, ditambah bukti palsu berupa baju dilumuri darah kedustaan. Disangka keluar dari dinginnya sumur menempatkannya ke dalam hangatnya kesenangan istana.

Ternyata fitnah rayuan wanita menjebloskan kejujuran tak berkuasa ke dalam kegelapan penjara. Janji Allah ta’ala kepada hamba-Nya tidak pernah lupa. Mimpi jadi wasilah menuju singgasana. Tatkala pendosa lupa, Nabi Yusuf a.s bersyukur atas nikmat Allah kepadanya.

Sebaik-baik kisah, bersyukurlah

Sebaik-baik kisah, kisahnya Nabi Yusuf ‘alaihis-salam. Diawali dengan mimpi seakan tak bertepi, diakhiri dengan kenyataan mimpi. Rencana jahat walaupun rapi teroganisasi, Allah SWT jamin bau busuk tetap menyengat terciumi. Puluhan tahun telah membutakan ingatan saudara seayah lagi serumah akan bau busuk makar mereka, pada saat itulah Allah putar ulang jejak lama kejahatan.

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Berkata Yusuf, wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

(Surah Yusuf, 12 : 100)

Bersikap syukurlah sebagaimana Yusuf ‘alaihis-salam. Nikmat tak membutakan mata hatinya. Singgasana dan pengaruh besar tak membusungkan dadanya. Mimpi mengantarkan telah Nabi Yusuf kepada kenyataan.

Ketika engkau meyakini bahwa setelah kesengsaraan ada kebahagiaan, dan setelah linangan air mata ada senyuman, maka sesungguhnya engkau telah menunaikan ibadah yang agung, yaitu berprasangka baik kepada Allah SWT.