Nabi Yusuf a.s yang paham – Pemahaman dan ketaatan kepada Allah SWT

dreamstime_xs_174333545
Pemahaman dan ketaatan kepada Allah SWT © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Paham artinya mengerti, tak paham sama saja tak mengerti. Sederhananya, seseorang yang mengerti tentu sudah paham. Paham itu penting. Ketaatan dalam beramal akan mudah lagi sempurna dilakukan jika didasari pemahaman utuh yang berangkat dari ilmu.

Nikmat tertinggi telah ditetapkan Allah SWT kepada Nabi  Yusuf‘alaihis-salam, yaitu nikmat kenabian. Allah sempurnakan nikmat itu dengan pemahaman tentang takwil mimpi. Memahami takwil mimpi ternyata sangat berharga membalikkan fitnah seorang wanita kepadanya, bahkan mengangkat derajat membersihkan buruk namanya di istana.

Pemahaman Nabi Yusuf a.s dan Nabi Ya’qub a.s

Ingatlah, ketika Yusuf a.s berkata kepada ayahnya:

“Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”

(Surah Yusuf, 12: 4)

Ia (ayahnya) berkata:

“Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan) mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”

(Surah Yusuf, 12: 5)

Nabi Ya’qub a.s merupakan kepala keluarga sekaligus sesosok nabi. Ia telah mencontohkan keteladanan menerapkan nilai-nilai dialog, musyawarah, dalam keluarganya. Dan Nabi Yusuf a.s sangat paham terhadap materi yang didiskusikan sang ayah.

Redaksi kalimat yang berbeda antara mimpi dan perintah menunjukkan pemahaman Nabi Yusuf a.s yang sempurna terhadap penyampaian pesan sang ayahanda. Yusuf sangat paham bahwa perintah itu bukan dari ayahnya, melainkan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Ketaatan Yusuf akan perintah ayahnya—yakni untuk tidak menceritakan isi mimpinya kepada orang lain walaupun serumah—menunjukkan kesempurnaan pemahamannya akan konteks (dan bukan teks belaka), yaitu kondisi hati sang ayahanda.

Mengapa kata ‘paham’ didahulukan daripada ‘ilmu’? Paham merupakan tujuan ilmu. Al-Quran dan as-Sunnah mengaitkan kebajikan dengan tafaqquh fid-diin (mendalami agama), bukan ta’allum fid-diin (mempelajari agama). Al-fiqhu lebih khusus atau spesifik dibandingkan al-‘ilmu; al-fiqhu berarti ‘paham’, bahkan paham yang mendalam. Paham yang membuka aliran darah ke akal dan menerangi dan menghidupkan kalbu.

Berikan pemahaman, akan lahir ketaatan

Imam Ibnu Qayyim al-Jauzy dalam ‘Ilamul Mawaqqi’in jilid 1 mengatakan: “Kepahaman merupakan nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya. Tiada nikmat yang lebih utama setelah nikmat Islam melebihi kedua nikmat tersebut. Dengannya, seorang hamba dapat terhindar dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang buruk tujuannya dan jalan orang-orang yang sesat (orang-orang yang buruk pemahamannya).

Sebaliknya, mereka akan menjadi orang-orang yang diberi nikmat, yaitu orang-orang yang baik pemahaman dan tujuannya. Merekalah orang-orang yang terbimbing ke jalan yang lurus, yang kita semua diperintah untuk memohonnya setiap shalat. Benarnya kepahaman merupakan cahaya yang disemayamkan Allah SWT dalam hati hamba-Nya.”

Syeikh Hasan al-Banna pun meletakkan paham (al-fahmu) sebagai poin pertama dalam arkanul bai’ah, sementara taat ditempatkan sebagai poin ke-6, sedangkan tsiqah di poin terakhir. Peletakan ini membenarkan betapa pentingnya paham sebelum segala-galanya. Apabila pemahaman ditanamkan sempurna, dan keteladanan dicontohkan, maka ketaatan akan dipersembahkan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.

Dalam menyampaikan pesan dakwah, ajaklah mereka bicara, berdiskusi, bermusyawarah, sebagaimana dicontohkan Nabi Ya’qub a.s dengan Nabi Yusuf a.s. Berikan pemahaman terlebih dahulu sehingga akan lahir ketaatan.

Jangan tekan dan paksa seseorang melakukan sesuatu di bawah bayang-bayang ketaatan yang ia tidak paham. Berikan kepahaman dengan hati dan kelembutan, bukan ketaatan buta lewat perintah yang disodorkan dengan ancaman hukuman yang kadang tak lebih manifestasi sebuah eksistensi.