Najib Elkilany, membela Islam lewat karya sastra

Dunia Muhammad Walidin 16-Sep-2020
Najib_Elkilany
Najib Elkilany © goodreads.com

Bernama lengkap Najib bin Ibrahim bin Abdul Latif al-Kaelani, Najib Elkilany merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Ia dilahirkan pada tanggal 10 Juni 1931 di Syirsyabah, Provinsi Gharbia, Mesir.

Ia tumbuh dan besar dalam situasi sosial, politik, dan ekonomi yang sulit, karena saat umur 8 tahun, perang dunia II berkobar. Setelah menyelesaikan studinya di sekolah dasar di Sinbad, ia melanjutkan ke sekolah menengah di Tanta selama 5 tahun. Meskipun lebih berminat pada ilmu sastra atau hukum, tetapi atas dorongan ayahnya, ia masuk Fakultas Kedokteran Universitas Fuad I (sekarang Universitas Cairo) pada tahun 1951.

Pada tahun keempat di perguruan tinggi tersebut, ia diajukan ke pengadilan berkenaan dengan aktivitas politiknya karena bergabung dengan al-Ikhwan al- muslimun. Ia divonis hukuman penjara selama 10 tahun. Akan tetapi, baru menginjak hukuman 3,5 tahun, ia dibebaskan. Setelah keluar dari penjara ia menyelesaikan kuliahnya. Pada tahun 1960, ia kembali dijebloskan ke penjara selama 1,5 tahun.

Setelah tamat dari Fakultas Kedokteran, Najib Elkilany bekerja sebagai dokter pada Departemen Perhubungan dan jawatan Kereta Api Mesir. Tahun 1967 ia meninggalkan Mesir dan bekerja sebagai dokter di Kuwait, kemudian di Dubai.

Selanjutnya, ia berpindah-pindah dari satu jabatan-ke jabatan lainnya. Terakhir, ia menjabat sebagai Direktur Departemen Kebudayaan pada Departemen Kesehatan Uni Emirat Arab, merangkap menjadi anggota panitia yang bergerak dalam bidang kesehatan masyarakat untuk Negara-negara Teluk. Ia menghadiri banyak muktamar Departemen Kesehatan Negara-negara Arab dan tahun 1992 kembali ke Kairo dan meninggal dunia pada tanggal 6 Maret 1995.

Najib Elkilany termasuk sastrawan Arab modern yang produktif. Ia telah mengarang 33 novel, 3 buah antologi puisi, dan pernah juga menulis naskah drama dan film.  Hasilnya, ia menuai banyak penghargaan dari berbagai lembaga sastra maupun sastrawan terkemuka Mesir, di antaranya:

  1. Penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran atas novelnya yang berjudul ‘at-Tariq at-Tawil’  (1957),
  2. Penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran atas karyanya yang berjudul ‘Iqbal asy-Sya’ir ats-Tsa’ir’  (1958),
  3. Penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran atas karyanya yang berjudul ‘Syauqy fi Rakbi al-Khalidin’  (1958),
  4. Penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran atas karyanya yang berjudul ‘al-Mujtama’ al-Maridl’  (1958),
  5. Hadiah Klab Novel dan Medali Emas dari Toha Husein atas kumpulan cerpennya berjudul ‘Mauduna Ghadan’ (1959),
  6. Penghargaan dari Majlis A’la untuk Pembinaan Seni dan Sastra atas novelnya yang berjudul ‘al-Yaum al-Mau’ud’ (1960),
  7. Penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran atas antologi cerpennya yang berjudul ‘Dumu’ al-Amir’  (1957),
  8. Penghargaan dari Majma’ al-Lughah al-Arabiyah atas novelnya ‘Qatilu Hamzah’ (1972),
  9. Hadiah Medali Emas dari Presiden Pakistan, Zia ul-Haq atas bukunya ‘Iqbal asy-Sya’ir ats-Tsa’ir’ (1980).

Ada banyak karya Najib Kailani yang bisa disebut. Namun keempat novel berikut ini menjadi istimewa di kalangan peneliti sastra. Novel tersebut adalah az-Zill al-Aswad, Azra’ Jakarta, ‘Amaliqat al-Syimal, dan Layaly Turkistan.

Novel-novel tersebut adalah bentuk pembelaan Najib Kailani bagi saudara-saudara muslimnya di Ethiopia, Indonesia, Nigeria, dan Cina yang terzalimi oleh kekuatan komunis. Walau saat itu ia sedang di penjara di Mesir, tapi ia mengetahui informasi-informasi tentang nasib saudara-saudara muslimnya di seluruh dunia.