Najib Mahfuz – sastrawan Arab penerima nobel sastra

Dunia Muhammad Walidin 21-Okt-2020
539px-Naguib_Mahfouz_in_1980s
Najib Mahfuz - sastrawan Arab penerima nobel sastra © By alaraby Public Domain, Link

Ia memiliki nama lengkap Najib Mahfuz Abdul Aziz Ibrahim Pasha. Lahir di distrik Gamalia daerah pinggiran kota Kairo, Mesir pada tanggal 15 Desember 1911. Keluarganya tergolong miskin dan tidak mengenyam bangku pendidikan yang memadai.

Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan yang kemudian beralih profesi menjadi pedagang. Ia mempunyai enam saudara; dua laki-laki, empat perempuan. Keenam saudaranya telah meninggal saat mereka masih berusia balita. Jadilah Mafuz kecil hidup tanpa canda dari kakak adiknya.

Studi ke Universitas Kairo, bekerja dan mengakhiri masa lajangnya

Pada tahun 1917, keluarganya pindah ke daerah pinggiran kota Abasiyah yang lebih bersih dan modern. Pada saat itu, ia dimasukkan ke sekolah dasar. Tahun 1924, di usia tiga belas tahun, ia melanjutkan sekolah Menengah Fuad I. Kemudian pada tahun 1930 ia melanjutkan studinya ke Universitas Kairo dengan konsentrasi filsafat Islam. Pada tahun 1934, ia mengantongi ijazah sarjana filsafat.

Najib Mahfuz mendapatkan tawaran dari Mustafa Abdul Raziq, salah seorang guru besar Universitas Kairo untuk menempuh program doktoral dalam bidang filsafat dan mistik Islam, tetapi tawaran itu ditolaknya.

Kesenjangan sosial yang dialaminya sejak kecil, serta penderitaan kaum kecil tertindas oleh kekuasaan birokrasi Mesir membuat rasa solidaritasnya bangkit. Ia memilih jalur pekerjaan di almamaternya dan menekuni bidang tulis menulis.

Sejak 1936-1939, ia mengabdi sebagai staf sekretaris di universitas. Selepas dari pekerjaan sebagi staf, karirnya menanjak secara perlahan. Ia ditugaskan pada Kementerian Agama dan Urusan Wakaf. Pekerjaan ini ditekuninya hingga tahun 1964.

Pada tahun yang sama, di usianya yang ke 43, ia mengakhiri masa lajangnya. Sejak itu terjadi perubahan mendasar pada kehidupan karirnya, ia ditetapkan sebagai Direktur Pengawasan Seni.

Pada tahun 1957, Najib Mahfuz diserahi jabatan  Direktur Lembaga Perfilman Nasional Mesir. Selama 8 tahun, ia mengabdi pada lembaga tersebut hingga dietapkan sebagai anggota Dewan Tinggi Perlindungan Seni dan Sastra pada tahun 1965.

Memperoleh penghargaan internasional Nobel 1988

Setelah menjadi Penasihat Menteri Kebudayaan Mesir, ia memutuskan untuk pensiun dari kepegawaian (1971) dan kembali mendalami minatnya dalam tulis menulis. Ia menjadi editor sastra pada surat kabar al-Ahram.

Najib Mahfuz telah menulis sekitar 70 cerita pendek, 46 karya fiksi, serta sekitar 30 naskah drama. Karya pertama Najib Mahfuz diterbitkan pada tahun 1932, pada saat usianya 21 tahun. Ia dalam bentuk terjemahan berjudul al-Misr al-Qadimah. Puncaknya, ia memperoleh penghargaan internasional Nobel tahun 1988 atas karya triloginya: Baina al-Qasrain, Qasr al-Syauq, dan al-Sukariyah.

Di samping karya-karya di atas, ia juga memiliki banyak tulisan dalam bentuk esai dan 32 naskah drama. ‘Bapak Peradaban Mesir’ yang juga sering dijuluki ‘Balzac dari Kairo’ ini meninggal dunia di usia hampir 95 tahun pada hari Rabu, 30 Agustus 2006 setelah dirawat di rumah sakit sejak bulan Juli 2006.

Bila suatu saat anda berkunjung ke Mesir, datanglah ke Museum Najib Mahfuz yang berlokasi di Gamalia dekat dengan tempat tinggalnya. Museum ini memajang berbagai memorabilia dan tulisan tangan, berbagai edisi novel, perpustakaan audiovisual dan studio karya Najib Mahfuz.

Sebagai pelengkap, jangan lupa pula mengunjugi kafe legendaris tempat sang maestro ini senang  nongkrong menggali inspirasi. Tempatnya di pasar tradisional Khan Khalili, dekat denga masjid al-Azhar lama. Sebuah cafe bernama El-Fishawy (Qahwah al-Fishawy) menjadi pilihan untuk meminum teh seharga kurang USD1 dollar sambil mengenang kebesaran Najib Mahfuz.