Nawal el-Sa’dawy, suara perempuan dari Mesir

Dunia Muhammad Walidin 12-Agu-2020
Nawal el-Sa’dawy © time.com

Nawal dilahirkan pada tahun 1931 di Desa Kafr Tahla, sebuah perkampungan kecil di luar Kaherah. Ia dan kedelapan saudaranya tumbuh di lingkungan keluarga yang cukup religius dalam kondisi negara sedang di bawah tekanan kolonial. Kedua orang tuanya adalah orang yang terdidik. Mereka memberikan kebebasan pendidikan dan belajar bagi anak-anaknya.

Ayah Nawal pernah menjabat sebagai pengawas umum pendidikan untuk Provinsi Minufia di daerah delta, wilayah yang terletak di sebelah utara Kaherah. Sementara ibunya digambarkan sebagai seorang revolusioner yang berambisi. Ibunya meninggal dunia ketika dia beumur 25 tahun, dan ayahnya menyusul tak lama kemudian. Keduanya tak dapat menyaksikan prestasi anak perempuannya yang luar biasa itu.

Pendidikan Nawal diawali dari sekolah dasar, sekolah menengah, dan juga sekolah tinggi di Mesir. Ia tidak seperti intelektual Mesir lain sezamannya, yang kebanyakan menghabiskan masa studi di luar negeri. Ia menjatuhkan pendidikan tingginya pada  Fakultas Kedokteran Universitas Kaherah, sebuah jurusan yang hanya disentuh oleh kaum laki-laki, tetapi justru yang diinginkan oleh Nawal. Ia meraih gelar sarjana psikiatri pada tahun 1955 dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik dari ratusan mahasiswa.

Dari segi karir, Nawal pernah singgah di Departemen Kesehatan Mesir (1958) dan sempat menjadi Direktur pada departemen tersebut. Saat itulah Nawal berjumpa dengan suaminya, Sherif Hetata yang juga seorang dokter. Hetata pernah aktif di salah satu aliran kiri bersamanya. Oleh karena itu, ia pernah dipenjara selama 13 tahun.

Sebagai seorang akademisi dan sekaligus pejuang hak-hak perempuan, Nawal sering mengadakan perjalanan dan perlawanan ilmiah. Pada tahun 1969, ia melakukan penelitian terhadap praktek penyunatan terhadap perempuan di Sudan yang dilakukan secara tradisional dan menyakitkan. Di Mesir sendiri, penyunatan itu dilakukan dengan cara memotong sebagian dari klitoris, tetapi di Sudan pemotongan tersebut dilakukan pada klitoris, dua bibir luar (labia mayora) dan terhadap dua bibir dalam (labia minora).

Akibat dari penyunatan yang tidak mengenal medis itu, banyak di antar para perempuan yang terkena infeksi selama hidupnya. Bahkan, di antara mereka tidak sedikit yang kehilangan nyawanya sebagai akibat dari cara-cara primitive dan tidak manusiawi dalam mengoperasi. Di samping itu, ia juga meniliti tentang wanita dan neorosis (1973-1976) dengan 20 studi kasus wanita di penjara dan di rumah sakit. Penelitian ini telah memberikan inspirasi baginya untuk menulis novel Women at Point zero (Perempuan di Titik Nol).

Lebih lanjut, Nawal juga melakukan penelitian tentang aborsi. Ia menemukan bahwa wanita dari keluarga kaya tiga kali lebih banyak melakukan aborsi dari wanita dari kalangan miskin. Bahkan, aborsi dari wanita yang telah menikah mencapai 90% dari total kasus. Menurutnya, kasus-kasus di atas bersumber dari persoalan konsep kepemimpinan keluarga yang diserahkan kepada kaum laki-laki secara mutlak sehingga melahirkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan.

Akibat dari suara vokalnya membongkar  tradisi patriarkhi Arab, ia siap menanggung segala resiko. Tahun 1972 Nawal diberhentikan dari instansi tempatnya bekerja, sekaligus dicopot dari posisinya sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat.

Organisasi yang ia dirikan tahun  1982 bernama ASWA (Arab Women’s Solidarity Association)  dilarang berkegiatan pada tahun 1991 oleh pemerintah Mesir, bahkan majalah ‘Nun’ yang menjadi corong para aktifis ASWA dibredel oleh penguasa Mesir. Untuk mencari atmosfer kehidupan ilmiah yang bersahabat, kini Nawal menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan Amerika, dengan sesekali berkunjung ke Mesir tanah kelahirannya.