Nazik al-Malaika: Penyair perempuan Arab kontemporer paling berpengaruh

Wanita Asna Marsono
Terbaru oleh Asna Marsono
Nazik al-Malaika: Penyair perempuan Arab kontemporer paling berpengaruh
Nazik al-Malaika: Penyair perempuan Arab kontemporer paling berpengaruh © arablit.org

“Dia meninggal, tapi tidak ada bibir berbicara,

tidak ada pipi yang berubah putih.

Tak ada pintu mendengar kisah kematiannya diceritakan dan diceritakan kembali.

Tidak ada tirai yang dibangkitkan untuk dilihat oleh mata kecil,

peti mati menghilang dari pandangan.

Hanya pengemis di jalan, yang sedang kelaparan, mendengar gema hidupnya –

Makam yang sunyi dan dilupakan, di bawah bulan yang melankolis.”

Garis-garis menghantui ini berasal dari puisi berjudul Ratapan Seorang Perempuan yang Tak Penting (Elegy for a Woman of No Importance). Penyairnya adalah Nazik al-Malaika. Tidak begitu dikenal di dunia Barat, namun al-Malaika dianggap sebagai pelopor puisi modernis dalam sastra Arab. Dia dikenang juga sebagai salah satu penyair wanita pertama di dunia Arab.

Puisi-puisi beliau memandang dunia dari perspektif wanita yang jelas. Tidak hanya dari segi konten, Nazik al-Malaika juga merevolusi bentuk puisi Arab dengan menjadi orang pertama yang menggunakan ayat bebas (as-syi’r al-hurr). Dia mempunyai latar belakang pendidikan di Barat. Meskipun hatinya dan puisinya sangat berakar pada realitas dunia Arab, termasuk kesengsaraan, penderitaan, dan keindahannya.

Pendidikan Nazik al-Malaika

Nazik al-Malaika lahir di Baghdad pada 23 Agustus 1923. Pada tahun 1944 beliau menerima Beasiswa Rockefeller yang bergengsi. Beliau kemudian pindah ke Universitas Princeton, di AS, untuk mempelajari kritik sastra. Pikiran cemerlang ini membawa Nazik untuk mendapatkan gelar  master dalam literatur komparatif dari University of Wisconsin, Madison.

Beliau lalu menjadi profesor di Universitas Baghdad, Universitas Basrah dan Universitas Kuwait. Oleh karena itu, Nazik al-Malaika belajar dan mengajar sastra secara akademis. Hal inilah yang mengajarkan Nazik tentang seni dari penulisan puisi, selain kejeniusannya yang memang sudah sejak lahir.

Syair-syair beliau yang dituliskan secara bebas (as-syi’r al-hurr) menggunakan kata-kata yang indah dan berakar dari tradisi puisi Arab yang kaya. Jadi dapat diartikan meskipun Nazik tidak menggunakan sebuah tradisi di satu sisi, di sisi lain beliau juga membawa yang terbaik dari dalam puisinya. Oleh karena itu, kekeraskepalaan Nazik dalam berinovasi melalui karya puisi  membawa sebuah revolusi besar bagi syair-syair Arab di zaman modern.

Akar dari puisi Nazik al-Malaika

Cara Nazik mengasah puisinya juga dapat dilihat dari bidang seni puisi lainnya. Contohnya, al-Malaika juga pandai dalam bidang puisi Barat, dan bahkan menerjemahkan beberapa karya panjang lebar ke dalam bahasa Arab, termasuk penyair besar seperti Lord Byron dan Thomas Gray. Namun dia tidak pernah sejenak membiarkan puisinya sendiri untuk meniru para master Barat. Suara dalam puisi beliau benar-benar mengekspresikan dirinya sendiri.

Puisi Nazik tidak terlalu terdengar politis, tetapi banyak dari puisinya yang mengandung tiga hal yang saling terkait: persatuan Arab, keaslian budaya, dan pertanyaan Palestina. Isu-isu tersebut dibuat dengan sangat baik dan halus namun mampu dengan jelas mengekspresikannya. Dan pada saat yang sama ayat-ayat al-Malaika mencerminkan mencampuran puitis antara timur dan barat.

Nazik meninggalkan Irak pada tahun 1970, menghabiskan dua dekade di Kuwait dan akhirnya berangkat ke Kairo, Mesir, tempat beliau tinggal sampai kematiannya pada tahun 2007, di usia yang ke-83 tahun. Suaminya adalah seorang akademisi Irak, Abdel Hadi Mahbooba. Di antara koleksi puisinya adalah, Al-Kuulira, Ana, dan Langkah Terakhir.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.