Nikmat tidur: Bagaimana menjadikan tidur itu produktif?

Kesehatan Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Nikmat tidur: Bagaimana menjadikan tidur itu produktif?
Nikmat tidur: Bagaimana menjadikan tidur itu produktif? © Ilham Ramadhan Purwanto | Dreamstime.com

” Payah…. Dia mah kalau sudah ketemu senderan, enggak sadar…. “.

“Iya, ya… 80% penumpang bus dan kereta api pasti tidur… Saya pernah lihat, sambil berdiri pun bisa tidur…”

” Ada lagi, kalau pas khutbah Jum’at bisa dikatakan 75% jamaah diterpa kantuk. Sadar sadarnya, kalau khathib sudah mau mengakhiri khutbah dengan kata “Ibadallah… “

Obrolan yang sering kita dengar seputar kebiasaan tidur di tengah masyarakat.

Nikmat tidur tidur tak bisa dipungkiri

Memang nikmat tidur tak bisa dipungkiri. Itu sebabnya Allah SWT mengingatkan peserta perang Badar akan nikmat tersebut sebagai suatu ketenteraman.

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya,..”

(Quran surah al-Anfal, 8 ayat 11)

Atau sebagai sarana istirahat.

“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,”

(Surah an-Naba, 78 ayat 9)

Dalam perjalanan, penulis tergolong ‘Pellor’ – kalau nempel langsung molor. Bahkan saat pesawat nunggu take off, kadang tertidur. Penulis pernah bertugas di luar kota kurang lebih sepuluh tahun.

Perjalanan itu memakan waktu dua jam-an. Baru 15 menit mobil berangkat, mata sudah tidak bisa diajak kompromi. Saat itulah perasaan perjalanan dua jam hanya terasa 15 menit.

Tapi hebatnya, selama bekerja tidak ada perasaan ngantuk dan ingin tidur. Kantuk itu baru terasa lagi ketika memasuki mobil saat pulang kerja di sore hari. Yang menjadi masalah adalah bagaimana menjadikan tidur itu produktif?

Istirahat karena kerja untuk kebahagian sesama

Tidur produktif adalah tidur yang membawa pengharapan disebabkan karena kerja-kerja kita untuk kebahagian sesama. Kita tidur untuk mendapatkan energi baru dari sebuah kerja besar yang kita harapkan hasilnya di masa depan.

Di sinilah kita dapat memahami tidur yang dirasakan oleh Ashabul Kahfi. Mereka sudah bekerja untuk menyelamatkan akidah umat. Walau di zamannya belum berhasil, tapi sesungguhnya mereka telah memulai.

Apa yang terjadi setelah mereka bangun setelah tertidur 300 tahun? Mereka kaget dan terpanah melihat apa yang ada di sekelilingnya. Semua bangunan dan jalan sudah berubah. Manusia yang lalu lalang tak satupun yang ia kenal.  Wajah-wajah mereka nampak ramah dan bersahabat.  Tidak ada wajah ketakutan atau menakutkan.

Ia baru sadar setelah berbelanja lalu ingin membayar, ternyata uangnya tak laku. Ternyata ia sudah tertidur selama 300 tahun. Dan apa yang mereka cita-citakan telah terwujud nyata di depan mata mereka. Yaitu tersebarnya tauhid di tengah kaum mereka.

Jadi, ketika kita tidur untuk istirahat karena kerja-kerja untuk kebahagian sesama, maka itulah tidur yang produktif. Sebab dengannya, tangan-tangan Allah SWT tetap bekerja melalui takdir yang telah ditetapkan.