Nilai Muamalah dalam Islam

Islam untuk Pemula Komiruddin
Terbaru oleh Komiruddin
Nilai Muamalah dalam Islam
Nilai Muamalah dalam Islam © Ahmad Syukri | Dreamstime.com

Berhasil dan gagalnya seseorang dalam ujian dan perhitungan kelak di akhirat bukan hanya tergantung pada ibadahnya. Tapi hal itu tergantung juga pada akhlaknya dalam bermuamalah.

Bermuamalah artinya kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama umat manusia untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.

Nilai Muamalah dalam Islam

Bisa jadi shalat, puasa dan zakatnya bagus, tapi karena akhlaknya dalam bermuamalah buruk, ia tetap masuk neraka. Atau sebaliknya, ibadahnya tidak terlihat banyak, tapi karena akhlaknya baik maka ia selamat dari neraka.

Agar lebih jelas, mari kita perhatikan hadis di bawah ini. Rasulullah SAW bersabda:

 “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.”

(Hadis riwayat Muslim, 6522)

Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang yang bangkrut adalah mereka yang datang dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Tiga amalan ini adalah dari jenis ‘Ibadah’.

Lalu dia juga mengerjakan keburukan berupa mencercah, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Semua amal buruknya ini adalah dari bab muamalah.

Hasilnya, perhatikan ujung hadis:

“Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/ kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.”

Ibadah dan menjaga akhlak kita terhadap sesama

Di sini, kita melihat terperosoknya seseorang ke dalam neraka dapat disebabkan muamalah yang buruk, walau dari sisi ibadah ia telah berhasil. Amalan ibadahnya akan dikuras habis oleh buruknya muamalah dengan orang lain.

Sementara dengan akhlak yang baik seseorang dapat sampai ke derajat mereka yang puasa dan melakukan qiyamullail.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.”

[HR. Abu Dawud (no. 4798), Ibnu Hibban (no. 1927) dan al-Hakim (I/60) dari Aisyah. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi]

Jadi, ibadah yang kita lakukan jangan sampai tergilas oleh buruknya akhlak kita terhadap sesama. Seperti memakan hak saudaranya, mencaci dan memaki atau menzalimi saudaranya.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.