Nilai positif tradisi Ngidang di Palembang

dipalembang.com-ngidang
Tradisi Ngidang © dipalembang.com

Saat ini pada acara-acara pernikahan atau hajatan sering ditemukan makan dengan gaya prancisan atau prasmanan yang mengantri panjang kemudian pergi ke kursi masing-masing.

Kadangkala tanpa mengobrol usai makan mereka langsung pulang. Budaya demikian itu mengikis nilai-nilai kebersamaan antar sesama jika kita melupakan budaya tertentu yang sebenarnya bernilai positif. Ya, salah satunya Ngidang.

Tradisi Ngidang atau Ngobeng

Ngidang merupakan tradisi di wilayah Sumsel khususnya Palembang. Dinas Kebudayaan kota Palembang menyatakan tradisi ngidang akan didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB).

Ngidang atau juga disebut Ngobeng dalam istilah palembang sebenarnya sudah menjadi tradisi masyarakat Melayu. Tradisi ngidang makan bersama pada acara besar seperti pernikahan, yasinan, dan acara hajatan lain yaitu beberapa orang menyajikan makan lengkap dengan lauk pauk digelar secara lesehan.

Para tamu undangan baik pejabat maupun masyarakat pada umumnya duduk bersila secara melingkar. Sayangnya tradisi ini seperti ini mulai menghilang di kalangan anak muda. Sebetulnya budaya seperti ini memiliki nilai-nilai positif yang baik untuk dilestarikan.

Ngidang atau ngobeng dalam tradisi makan di Palembang menjadi perhatian yang harus tetap dilestarikan. Tradisi ini menekankan silaturahmi dan kebersamaan tanpa melihat status sosial seseorang. Banyak nilai positif yang patut kita teladani dari ngidang yang sebenarnya berasal dari kata ‘Hidangan’.

Lestarikan Ngidang, budaya senada ajaran Islam

Pertama, mempererat silaturahmi. Dalam Islam juga dianjurkan untuk saling bersilaturahmi salah satunya dengan memenuhi undangan saudara yang sedang tasyakuran. Dengan kita duduk bersila secara langsung maka kita bisa bercengkramah dan berkomunikasi secara langsung dengan yang lainnya tanpa melihat perbedaan status.

Kedua, menjaga hijab perempuan. Pada tradisi ini biasanya tuan rumah memisahkan tamu laki-laki dan perempuan sesuai dengan tempat duduk yang disediakan. Tamu laki-laki melingkar dengan bersama sekelompok laki-laki, begitupun dengan tamu perempuan. Hal ini juga senada dengan ajaran Islam untuk menjaga jarak pertemuan antara laki-laki dan perempuan.

Ketiga ialah gotong-royong.  Berbeda dengan budaya makan prasmanan kita hanya antri dengan makanan yang sudah disiapkan. Pada tradisi ini nilai positif yang dapat kita lihat yaitu gotong-royong. Beberapa orang akan berbaur dan saling membahu dalam mengantarkan hidangan makanan. Satu demi satu piring dijalankan bergilir sampai semua yang duduk kebagian dan menunggu yang lain untuk makan bersama.

Budaya Ngidang atau Ngobeng merupakan budaya baik, hendaknya kita tetap menggunakan pada acara-acara keluarga agar kebersamaan sesama keluarga tetap terjaga. Nilai positif juga menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini untuk tetap melestarikan budaya yang baik.