Ode untuk abang tersayang

Kehidupan Muhammad Walidin 07-Agu-2020
Abang dan adik © Pierre Aden | Dreamstime.com

Abangku  bernama Dr. Jhoni. Suatu hari ia mengeluh sakit perut. Ia pergi ke rumah sakit. Dokter bilang penyakitnya tidaklah berat. Ia memaksa agar segera diambil tindakan  karena sakitnya luar biasa. Sekali lagi dokternya bilang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak berapa lama, ia hilang kesadaran dan meninggal. Semua tertegun…

Abangku meninggalkan seorang istri dan enam orang anak yang masih kecil-kecil, bahkan masih ada yang bayi.  Musibah ini tentu pukulan berat bagi keluarganya. Istrinya adalah ibu rumah tangga murni. Abangku mengambil tanggung jawab penuh untuk keluarganya dan meminta istrinya fokus mengurusi anak-anak. Ia juga bahkan menjamin penghidupan orang tua kami, semasa mereka masih hidup.  Kini putra putrinya yang  kecil itu mulai beranjak dewasa. Allah SWTlah sebaik-baik penolong.

Abangku berprofesi sebagai dokter PNS. Ia melayani kesehatan masyarakat di rumah sakit pemerintah kota Palembang. Pendidikan dokternya merupakan polesan banyak tangan ilmuwan dan ulama. Ia didukung dan didanai oleh Habib Ahmad al-Habsyi; pemiliki pesantren Ar-Riyadh Palembang. Tinggal di pesantren tersebut sejak berpindah keyakinan di umur 16 tahun. Belajar agama hingga lulus dari Fakultas Kedokteran.

Abangku mencari pekerjaan apa saja untuk membiayai diri sendiri saat kuliah. Kuliah di Kedokteran tentu memerlukan dana ekstra. Ia memang pintar. Lebih dari itu, ia suka berbagi ilmu. Ia mengajar anak-anak secara  privat untuk mata pelajaran tertentu. Hasil kerja kerasnya, ia persembahkan untuk orang tua kami. Dialah yang meminta orang tua kami untuk tidak lagi bekerja karena alasan kesehatan. Ia berkomitmen untuk menyantuni orang tua kami hingga akhir hayat keduanya.

Abangku memutuskan masuk Islam saat ia baru duduk di kelas 1 SMA Katolik. Berkat kepintarannya, ia diangkat anak oleh Dr. H dan dibiayai pendidikannya. Namun, di saat itulah ia menantang kemapanan. Tinggal bersama keluarga angkat Kristiani yang bonafide dan dibiayai pendidikannya tidak membuat abangku lalai mencari kebenaran. Dr. H pernah memberinya sebuah al-Quran dan Alkitab.

Ia membandingkan bahasa kedua kitab suci itu. Ia tersirap dengan bahasa dan kandungan al-Quran. Hidayah ternyata semakin dekat menghampirinya. Pergolakan batinnya dalam mencari Allah SWT berakhir di masa itu. Ia meninggakan agama lamanya; Kristen Protestan.    Di depan pejabat Kementerian Agama Sumatera Selatan, ia mengikrarkan syahadat, tahunnya adalah 1991.

Demi menggapai Islam yang Kaffah, abangku rela berpisah dengan keluarga angkatnya. Iapun memutuskan pindah dari SMA Katholik ke Madrasah Aliyah ar-Riyadh. Lengkap sudah ijithadnya. Allah SWT mengganti keluarga angkatnya dengan  keluarga besar Pesantren Arriyadh. Di sana ia sekolah gratis bahkan disekolahkan hingga lulus Fakultas Kedokteran.

Sebenarnya, pergolakan batinnya aku lihat telah mulai sejak ia bersekolah di SMPN 40 Palembang. Ia aktif berdiskusi dengan ibu Muslihah, guru agama Islam di sekolah tersebut. Sepulang sekolah, ia akan bertanya dengan ibu tentang Trinitas. Pertanyaan-pertanyaan di atas sering tidak terjawab oleh ibu yang penganut Kristen Protestan. Ia mencari penjelasan kepada buku-buku Islam. Sampai tiba saatnya, ia mengakhiri masa kegelapan menuju terangnya hidayah di usia ke 16 tahun.

Abangku adalah idolaku. Saat itu aku masih duduk di kelas 6 SD. Aku aktif mendengar perdebatan antara ibu dan dia. Baik tentang Trinitas atau semacamnya. Argumentasi abangku tidak terjawabkan oleh ibuku. Ibuku memintanya untuk berhenti bertanya dan memilih taat saja. Abangku tidak sependapat. Ia terus bertanya hingga buku-buku Islam bisa memuaskan rasa ingin tahunya.

Abangku adalah imamku. Berkat daya kritisnya, aku dipeluknya hingga bertemu Islam; jalan keselamatan. Ia kini damai bersama Allah SWT, di Surga. Wa lahul fatihah.

(Diangkat dari kisah nyata, sumber wawancara adalah Yanto, adik kandung almarhum)