Orang lain di tengah kita

dreamstime_s_179959113
Orang lain di tengah kita © dotshock | Dreamstime.com

Orang ketiga sering didefinisikan sebagai ‘orang lain di tengah kita’. Biasa dimaknai dengan makna negatif,  yaitu pembisik. Dalam hadis dijelaskan, bila ada dua orang yang bukan mahram berdua-duaan, maka yang ketiga adalah setan.

 “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut, karena setan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”

(Hadis riwayat Ahmad dari hadis Jabir 3/339. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Gholil jilid 6, no. 1813)

Adakah orang ketiga selamanya buruk?

Orang ketiga tidak selamanya buruk. Bahkan dibutuhkan untuk mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa.

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(Surah an-Nisa, 4:35)

Dia akan menjadi buruk bila orang ketiga ini memendam kebencian dan dengki di dalam hatinya.

Ketika Iblis memendam kebencian dan dengki kepada Adam a.s dan Hawa a.s,  ia bisikkan mantra-mantranya sehingga akhirnya Adam dan Hawa tergoda, hingga melanggar larangan Allah SWT.

Ujungnya sudah dapat dipastikan bahwa keduanya harus turun ke bumi meninggalkan Surga tempat kenikmatan.

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain,  dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

(Surah al-Baqarah, 2:36)

Dalam rumah tangga,  kadang yang membuat kisruh dan bisa jadi akhirnya kandas di tengah jalan adalah orang ketiga. Kehidupan yang tadinya rukun,  damai tenteram menjadi terusik dan akhirnya timbul saling curiga.

Sang istri tak lagi percaya terhadap suami dan sebaliknya. Masing-masing saling memata-matai dan curiga. Bisa dibayangkan kehidupan rumah tangga seperti ini,  pasti kacau dan tak beraturan. Tidak ada lagi rasa nyaman dan saling menghormati.

Bahaya orang munafik

Di zaman Rasulullah orang ketiga ini adalah mereka yang mengaku muslim,  tapi menyimpan dendam kesumat terhadap Rasulullah SAW. Dalam terminologi Quran, mereka ini dinamakan munafiqun atau kaum munafik.

Mereka ini yang merongrong dakwah Rasulullah SAW,  membuat repot, bahkan menyebarkan fitnah. Puncaknya adalah penyebaran hadisul ifki atau berita bohong tentang Aisyah r.a, istri Rasulullah.

Kaum munafik ini lebih berbahaya dari kaum kafir. Sebab mereka berada di tengah kaum muslim dan berpakaian layaknya kaum muslim. Bahkan tak tanggung-tanggung,  kadang orang ketiga ini memposisikan dirinya sebagai penasihat.

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya.

“Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.”

(Surah al-A’raf, 7:21)

Mereka ini serigala berbulu domba atau musang berbulu ayam. Persis seperti kata pepatah ‘Musuh dalam selimut’ atau ‘Menggunting dalam lipatan’.

Dalam hadis disebut juga dengan istilah dzul wajhain atau ‘pemilik dua wajah’. Ketika bersama umat Islam,  ia berkata ‘’Aku bersama kalian’. Tapi bila kembali kepada kelompoknya ia mengatakan, “Aku bersamamu. Aku hanya mengolok-ngolok.”

Oleh sebab itu Allah SWT membalas keburukan mereka dengan menempatkan mereka di dasar yang paling bawah dari api neraka.

 “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”

(Surah an-Nisa, 4:145)