Otoritas dan fakta

Islam 07 Jan 2021 Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Otoritas dan fakta
Otoritas dan fakta © Hikrcn | Dreamstime.com

“Bapak bapak dan hadirin semuanya,  saya berjanji akan memperhatikan kesejahteraan wong cilik bila saya terpilih sebagai bupati.”

“Saya akan membangun jalan di desa ini sehingga tidak ada satu gangpun yang becek saat hujan bila saya terpilih menjadi kepala desa.”

“Apa yang diinginkan masyarakat akan saya perjuangkan jika saya terpilih menjadi anggota dewan.”

Otoritas dan fakta

Itulah contoh janji janji politik yang sering diucapkan oleh calon,  baik calon gubernur,  calon bupati,  calon anggota dewan maupun calon kepala desa. Janji-janji yang tentu masyarakat tidak akan percaya begitu saja. Mereka kadang minta bukti dimuka. Dan itu sah-sah saja.

Membangun kepercayaan tidaklah mudah. Sebab ia membutuhkan bukti dan fakta. Bukti dan fakta yang mengantarkan seseorang kepada kepada tingkat ketenangan jiwa dan ketenteraman hati.

Orang sulit akan percaya bila apa yang  dikatakan belum terbukti dan teruji. Salah satu alasan mengapa orang orang Quraisy menggelari Muhammad SAW dengan Al-Amin,  adalah karena terbukti jujur dan tak pernah berkhianat sepanjang hidupnya.

Mari kita belajar dari Ibrahim a.s bagaimana membangun kepercayaan di dalam diri. Nabi Ibrahim meminta kepada Allah SWT, agar Allah menunjukkan kepadanya bagai mana Ia menghidupkan orang mati.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.”

Allah berkata kepada Ibrahim a.s: “Apakah engkau belum yakin (percaya) tentang kekuasaan itu?”

Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”

Spontan Ibrahim menjawab: “Bukan,  bukan aku tidak percaya. Akan tetapi supaya hantiku mantap,  tenang dan tenteram.”

Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).”

Memaksa untuk percaya itu pengkhianatan terhadap hati

Allah SWT mempertanyakan hal itu tentu sah-sah saja, sebab Ia pemegang otoritas. Tapi itu tidak cukup, dan berhenti sampai di sini.  Sebab setelah itu, Allah memberikan fakta dan bukti terhadap apa yang diminta oleh Ibrahim a.s. Bukti dan fakta yang membuat tenang dan mantapnya keyakinan Ibrahim.

Penggunaan otoritas tanpa memberikan penjelasan yang melegahkan, dengan alasan ‘Sudah percaya saja,  enggak mungkin salah’ ini tidak berlaku bagi Allah SWT. Sebab  setelah itu, Allah membuktikan kekuasaannya yang membuat hati Nabi Ibrahim a.s lebih mantap dan tenang.

Allah SWT berfirman:

“(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Surah al-Baqarah, 2 ayat 260)

Begitulah cara kita belajar dari Nabi Ibrahim a.s. Jika kepada Allah SWT saja seseorang boleh minta fakta dan bukti agar keyakinan bertambah mantap dan hati menjadi tenang.  Maka ‘min babil aula’ (hal itu lebih layak) bila ditujukan terhadap sesama manusia.

Selama penjelasan kita tidak membuat tenang dan tidak memberikan kemantapan hati,  jangan paksakan orang lain untuk percaya. Sebab memaksakan untuk percaya itu salah satu bentuk penghianatan terhadap hati nurani.