Pandangan dan tipuan mata!

Filsafat 21 Apr 2021 Komiruddin
Komiruddin
Pandangan dan tipuan mata!
Pandangan dan tipuan mata! © Sandyche | Dreamstime.com

Pandangan kadang menipu. Kadang apa yang kita lihat tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Ketika kita melihat tongkat di air yang jernih, pandangan kita mengatakan bahwa tongkat itu bengkok. Padahal sebenarnya lurus.

Ketika kita berjalan saat terik matahari di tanah yang lapang, pandangan kita mengatakan ada lautan air di ujung sana. Padahal sebenarnya padang pasir yang gersang tak ada setestes airpun.

Pandangan dan tipuan mata

Bulan yang benderang di malam purnama terlihat indah dari kejauhan. Padahal kenyataan sesungguhnya tak seindah yang dilihat. Gunung dan bukit menghijau terlihat indah dan menyejukan saat saat kita sedang di atas kendaraan atau puncak. Padahal bila di dekati keindahannya akan sirna.

Karenanya tidak cukup menilai seseorang dengan hanya melihat zhahirnya, apa lagi hanya sepintas. Sebab bisa jadi penilaian kita salah.

Pada suatu hari, ketika Nabi Muhammad SAW sedang duduk dengan para sahabat, lewatlah seseorang di hadapan mereka. Lalu Baginda bertanya kepada para sahabat, “Bagaimana pendapat kalian dengan orang itu ?”

Para sahabat menjawab, “ Ya Rasulullah, ia adalah keturunan bangsawan. Demi Allah, jika ia melamar seorang wanita, tentu lamarannya tidak akan ditolak. Jika mengusulkan sesuatu, tentu akan disetujui oleh yang lain.” 

Nabi Muhammad SAW berdiam diri tidak berkata apapun. Tidak lama kemudian, lewat seseorang lagi dihadapan mereka. Nabi kembali bertanya tentang orang yang baru saja lewat di hadapan mereka tersebut kepada para sahabat.

Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, ia adalah seorang muslim yang miskin. Jika ia meminang seorang wanita, pinangannya tentu sulit untuk diterima. Bila ia mengusulkan sesuatu, usulannya tentu akan ditolak. Jika ia berbicara, tidak akan ada orang yang mendengarnya”.

Sabda Nabi Muhammad SAW: “Orang Habsyi kedua itu lebih baik daripada orang yang pertama, walaupun orang yang pertama tersebut memiliki dunia beserta isinya.”

(Hadis riwayat Muslim)

Perintah tabayyun terhadap setiap berita

Kadang  kita latah dan terlalu cepat menjustifikasi, padahal baru berdasarkan penglihatan zahir atau pendengaran. Melihat pejabat punya mobil mewah atau rumah baru, langsung dikatakan pasti ini hasil korupsi. Padahal boleh jadi sebelum menjabat ia memang sudah kaya.

Bila melihat wanita yang gemuk berjalan, langsung dikatakan pasti wanita ini banyak makan dan tidur. Melihat wanita kurus, pucat masai, langsung dialamatkan pasti ini wanita kurang makan atau suaminya pelit. Padahal bisa jadi ia baru sembuh dari sakit dan pada masa pemulihan.

Apabila melihat pemuda berdasi membawa map, akan terlintas di benak pasti orang ini sales atau minta sumbangan. Padahal boleh jadi orang tersebut mengantarkan hadiah atau surat diterima lamaran kerja.

Melihat kakek-kakek tua berjalan bersama wanita muda, langsung dikatakan sudah kakek-kakek doyannya daun muda. Padahal bisa jadi itu cucunya.

Bila melihat seseorang yang mengkritisi program atau kebijakan, langsung dicap tidak menerima keputusan atau ‘merasa lebih baik’.

Melihat orang berkeliling ceramah memberikan pencerahan, dikatakan penggalangan masa untuk hidden agenda.

Itu sebabnya mengapa Allah SWT memerintahkan pada kita untuk tabayyun terhadap setiap berita, menghindarkan buruk sangka, tidak memata-matai dan mencari-cari kesalahan. Agar kita tidak menjatuhkan vonis hanya berdasarkan penglihatan zahir dan pendengaran.

Dengan demikian, ikatan ukhuwwah dan cinta karena Allah Taala yang kita bangun tidak akan retak dan renggang.