Pelabuhan Tarifa, Spanyol dan Tarif bin Malik

Dunia Muhammad Walidin 24-Agu-2020
Pelabuhan Tarifa di Cadiz, Andalusia © Stanislava Karagyozova | Dreamstime.com

Nama Tariq bin Ziyad lebih dahulu saya kenal dibanding Tarif bin Malik dalam penaklukan Spanyol. Sejak kecil saya telah membaca kisah epik Tariq bin Ziyad saat menyeberang selat Hercules (kini diubah menjadi selat Gibraltar) yang memisahkan Afrika dan Eropa pada tahun 711 Masehi.

Di atas sebuah bukit, ia berpidato: “Wahai manusia, di depanmu adalah musuh, dan di belakangmu adalah lautan, ke manakah kailan akan berlari? Tidak ada tempat berlari kecuali maju.” Strategi Tariq adalah membakar kapal yang disediakan oleh bangsa Vandal untuk mengangkut 7000 pasukannya menuju Andalusia. Maka, tidak ada kata lain bagi pasukannya yang terdiri dari suku Berber, Arab, Hingga Negro kecuali harus menang merebut Andalusia.

Sejak itu, Toledo jatuh ke tangan Tariq, dan dilanjutkan dengan ekspedisi ketiga oleh Musa bin Nushair pada tahun 712 dengan 10.000 pasukan untuk menguasai tanah Galia yang dikuasai bangsa Perancis, tapi tak kesampaian. Ya, cukup Spanyol menjadi bagian dari kekuasaan bani Umayyah dalam 3 tahun penaklukan saja.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa ekspedisi Tariq bin Ziyad merupakan ekspedisi kedua yang mendarat di benua Eropa itu.  Sebelumnya, Tarif bin Malik pada tahun 710 Masehi telah dikirim oleh Gubernur Musa bin Nushair, Gubernur Bani Umayyah di Afrika Utara.

Tarif berangkat ke Andalusia bersama 500 tentara  Muslim. Bangsa Gothia yang merebut semenanjung Iberia dari bangsa Vandal dan saat itu berkuasa  sedang dalam keadaan lemah. Dengan mudah pasukan Tarif menguasai pelabuhan paling selatan Eropa itu dan membawa harta rampasan ke Afrika Utara.

Tarif bin Malik memang pertama kali menjejakkan kakinya di pelabuhan ini saat masuk ke Spanyol.  Sampai saat ini, nama Tarif diabadikan menjadi kota dengan penyebutan Tarifa. Masyarakat Spanyol tetap menggunakan nama ini sebagai salah satu kota wisata pantai di selatan Spanyol.

Saat ini, kota Tarifa bersolek menjadi kota destinasi pariwisata wind/kite surfing. Kota yang terletak di pertemuan samudra Atlantik dan laut mideterania ini memiliki angin kencang yang disukai para peselancar.  Bahkan pemeritah setempatpun membangun pembangun listrik bertenaga bayu karena produksi angin yang berlimpah. Tiang-tiang turbin angin menghiasi pegunungan Tarifa dan menghasilkan 37 MW. Oleh karena itu, ia disebut-sebut pula sebagai the capital city of wind energy.

Di samping itu, kota ini menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menyeberang selat Gibraltar ke Tangier, Maroko. Perjalanan dengan kapal feri dan pesiar hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk menaklukan jarak 14 km. Bila tidak ingin meyeberang selat, kelap kelip lampu Maroko juga dapat diteropong dari Punta de Tarifa; pulau kecil paling selatan benua Eropa. Pulau yang digunakan oleh militer hingga 2001 ini kini telah menjadi destinasi wisata sejarah.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada tahun 1492 bisa menghapus jejak Muslim dari bumi Andalusia. Tetapi, rekam jejak kejayaan Islam selama 700 tahun berkuasa di Spanyol terlalu kuat untuk dihapus. Kota Tarifa dan selat Gibraltar adalah salah satunya.