Pelajaran dari persusuan Nabi Muhammad SAW

Kehidupan Sanak 09-Jul-2020
Pelajaran dari persusuan © Anusorn Sutapan | Dreamstime.com

Anak adalah dambaan orang tua. Sembilan bulan ibu mengandung, selama itu pula ayah menafkahi dan memberikan cinta yang tak terkata. Kerinduan akan hadirnya buah hati ke muka bumi begitu membuncah. Ketika bayi itu lahir, suka cita dirasakan keduanya.

Cerita yang sama ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Aminah r.a, ibunda Rasulullah tersenyum bahagia meskipun tanpa suami yang mendampingi.

Pelajaran dari persusuan Nabi Muhammad SAW

Sang kakek, Abdul Muthalib r.a meluapkan kegembiraan dengan membawa bayi tersebut ke depan Kakbah dan memberi namanya Muhammad. Lain lagi dengan Abu Lahab, paman Nabi ini menunjukkan kesenangannya dengan menghadiahkan Tsuwaibah r.a untuk menyusui Rasulullah.

Jika melihat situasi ini, sungguh tak mungkin rasanya mereka akan membiarkan bayi itu dibawa pergi, meski sedetik pun. Namun, sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab waktu itu, bayi yang baru dilahirkan akan disusukan kepada wanita lain. Wanita ini biasanya dari pedesaan yang datang ke kota untuk mencari nafkah dengan cara memelihara anak bangsawan di kampung mereka.

Aminah r.a, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak yang bernama Ummu Aiman.  Ia tidak mampu memberi upah wanita yang menjual jasa untuk menyusui dan memelihara anaknya.

Adalah Halimah as-Sa’diyyah r.a dari Bani Sa’ad di Thaif, dia mengambil Muhammad SAW dengan berat hati karena hanya ia yang tidak mempunyai anak asuh di antara teman-temannya. Keajiaban terjadi ketika dia menggendong Muhammad, tiba-tiba air susunya berlimpah. Dan banyak keberkahan lain yang dirasakan Halimah dan keluarga.

Ada beberapa faedah yang disebutkan oleh para ulama tentang disusuinya Rasulullah SAW di perkampungan. Pertama, pentingnya anak-anak di masa kecil untuk hidup di daerah dengan udara yang masih segar. Kedua, untuk menjaga bahasa Arab asli yang sudah terdegradasi di perkotaan. Ketiga, anak-anak akan tumbuh di perkampungan dengan kehidupan yang tidak manja sehingga akan menjadi pribadi yang ulet dan tangguh.

Hikmah terbesar dari persusuan Rasulullah SAW

Selain itu, hikmah terbesar dari persusuan Nabi  Muhammad SAW adalah hukum syariat yang berlaku dalamnya. Ibu susuan layaknya orang tua kandung. Tidak halal menikahinya, serta yang berhubungan darah dengannya. Hal ini seperti hadis Rasulullah dari sahabat Ibnu Abbas.

“Nabi Muhammad SAW ditanya: Kenapa engkau tidak menikah dengan putrinya Hamzah? Maka Baginda mengatakan: Dia adalah putri dari saudaraku sepersusuan.”

(Hadis riwayat Al-Bukhari no. 5100 dan Muslim no. 1447)

Hadis ini berkenaan Rasulullah SAW dan Hamzah pernah disusukan oleh Tsuwaibah r.a. Dalam riwayat lain dari Ummu Habibah r.a, istri Rasulullah berkata:

“Kami mendengar berita bahwa engkau akan menikah dengan putrinya Abu Salamah.” Kata Nabi, “Abu Salamah?” Kata Ummu Habibah, “Ya.” Kata Rasulullah, “Kalaulah putri Abu Salamah bukanlah rabibah-ku (anak perempuan bawaan istriku Ummu Salamah) maka tetap saja tidak halal bagiku (untuk dinikahi) karena ia adalah putri saudara sepersusuanku (yaitu Abu Salamah), aku dan Abu Salamah disusui oleh Tsuwaibah. Maka janganlah kalian menawarkan kepadaku putri-putri kalian dan jangan pula saudari-saudari kalian!”

(HR Al-Bukhari no. 5101 dan Muslim no. 1449)

Sehingga putri Abu Salamah r.a adalah mahram Nabi SAW (tidak halal untuk dinikahi oleh Nabi) karena dua sebab, pertama karena ia adalah putri Abu Salamah saudara sepersusuan Nabi, kedua karena putri Abu Salamah adalah rabibah Nabi yaitu putri bawaan istri Nabi, Ummu Salamah r.a.

Dari cerita ini, dapat disimpulkan bahwa persusuan bukanlah sekedar adat kebiasaan. Seorang  Muslim yang melakukannya harus mengetahui konsekuensinya.