Pembinaan dan dakwah adalah keniscayaan iman

Iman Tholhah Nuhin 09-Okt-2020
dreamstime_s_114091736
Pembinaan dan dakwah adalah keniscayaan iman © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Manisnya iman, apabila ia bisa melakukan perubahan dalam diri seorang mukmin. Perubahan secara totalitas dalam semua lini kehidupan. Pembinaan dan dakwah adalah keniscayaan iman, karena kekuatan iman yang sesungguhnya akan menjadi daya dobrak dan akan menimbulkan ledakan ‘revolusi diri’ dalam ruang kepribadian seseorang.

Pembinaan dan dakwah adalah keniscayaan iman

Dan lezatnya keimanan kita apabila ia mampu memberikan ta-tsir (pengaruh) kepada orang lain. Ta-tsir ijabi (pengaruh positif) yang bersandarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ta-tsir inilah yang disebut gerakan pembinaan dan dakwah. Gerakan da’awiah tarbawiah yang memfokuskan pada dimensi ishlahiah nafsiah (perbaikan diri), tazkiah (pensucian), tanmiah (pengembangan dan penumbuhan) self-skill dan ri’ayah (pemeliharaan dan penjagaan) potensi diri serta citra diri.

Ini juga merupakan gerakan dan kerja nabawi yang diabadikan oleh beberapa ayat Al-Quran:

 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

(Surah al-Jumuah, ayat 2)

Melakukan gerakan pembinaan dan dakwah adalah keniscayaan iman sendiri. Gerakan dakwah selain kerja nabawi adalah konsekwensi logis keimanan seseorang. Para sahabat yang telah bersyahadat di hadapan Rasulullah SAW sangat memahami kerja da’awi tarbawi.

Mereka selalu semangat menawarkan keimanan yang diyakininya kepada setiap orang yang ditemui. Mereka menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah masyarakat Quraisy pada waktu itu. Meskipun konsekwensinya harus mengorbankan jiwa dan raga. Dan mereka senantiasa melakukan komunikasi dan da’wah secara pribadi terhadap anggota keluarga dan kabilahnya.

Oleh karenanya Abu Bakar r.a sangat bersemangat untuk mempengaruhi setiap orang dengan nilai-nilai kebenaran Islam. Maka masuklah Utsman bin Affan r.a, terekutlah Thalhah bin Ubaidillah r.a dan bergabunglah Abdur Rahman bin Auf r.a dalam barisan dakwah.

Gelorakan kembali semangat berdakwah

Pada kondisi saat ini, semangat berdakwah harus digelorakan kembali. Dengan tujuan melakukan perubahan dan perbaaikan  secara perbadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Seorang dai berkata: “Kami hanya menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat nan muda. Hati yang baru nan berkibar-kibar. Emosi pencemburu yang menyala-nyala dan ruh-ruh yang memiliki obsesi tinggi, visioner dan yang selalu semangat demi menggapai cita-cita mulya dan tujuan-tujuan luhur…”

Sampai-sampai Imam Syafi’i mengingatkan para pemuda yang tidak melakukan gerakan dakwah, agar ditakbirkan saja. berpesan kepada kaum muda dalam sebuah antologi puisinya:

“Orang yang pada masa mudanya tidak melakukan ta’lim (membina/mendakwahi), maka takbirkan kepadanya empat kali takbir. Karena ia telah wafat (sebelum matinya). Dan hakekat seorang pemuda – demi Allah…! Hanya dengan ilmu dan ketakwaan. Apabila ia tidak memilikinya, maka jangan sekali-kali dianggap sebagai pemuda”

Iltizam dengan nilai-nilai kebenaran Islam, sabar dan istiqamah meniti jalan keimanan, melakukan gerakan dakwah serta amal jihad dengan seluruh maknanya. Melaksanakan gerakan pembinaan dan dakwah sepanjang kehidupan kita – niscaya Allah SWT akan memberikan kemenangan dan kebahagiaan kepada kita.

Kemenangan baik di dunia maupun di akhirat. Itulah cita-cita dan harapan kita yang paling mulia.