Pembisik jahat sebenarnya

Masyarakat Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Pembisik jahat sebenarnya
Pembisik jahat sebenarnya © Milkos | Dreamstime.com

Fenomena pembisik selalu ada di setiap masa. Namanya bisa berbeda-beda: penghasut, penjilat, bermuka dua, dan sebutan lainnya. Berbeda nama, namun memiliki makna, fungsi dan bahaya yang sama.

Cikal bakal pembisik

Jauh sebelum jumlah manusia banyak, Allah SWT hanya menciptakan sepasang manusia. Mereka adalah Adam a.s dan Hawa a.s. Dengan rahmat-Nya, Allah menempatkan mereka untuk hidup di surge sebagai sepasang kekasih.

Adam dan Hawa diberi keleluasaan untuk menjelajahi dan menikmati keindahan surga. Apa pun yang mereka inginkan, mereka diizinkan untuk melakukannya. Terkecuali satu saja: jangan sekalikali mendekati sebuah pohon.

Pohon itu diberi nama khuldi. Entah apa alasan Allah melarang Adam dan Hawa mendekati pohon itu. Yang pasti, sebuah larangan haruslah dipatuhi apalagi larangan dari Yang Maha Menciptakan.

Pada awalnya Adam menaati larangan itu. Namun, tidak beberapa lama, datanglah makhluk Allah SWT yang berbeda jenis dengan keduanya. Iblis, namanya. Ia datang berperan sebagai pembisik agar dua insan itu melanggar perintah Allah.

Adam dan Hawa pun termakan oleh bisikan Iblis sehingga keduanya mendekati pohon larangan. Alhasil, Allah SWT menjatuhkan hukuman dengan mengeluarkan Adam dan Hawa dari kenikmatan surga.

Pembisik jahat sebenarnya

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“Pengertian ayat enam pada surat an-Naas  yaitu menjelaskan tentang siapa yang membisikkan, dan mereka ada dua macam: jenis jin dan manusia. Jin membisikkan ke dalam dada manusia, sedang manusia pun juga membisikkan ke dalam dada manusia. Dan bentuk kesertaan keduanya dalam bisikan ini adalah kesertaan keduanya dalam menebarkan pengaruh setan.”

Allah ta’ala berfirman dalam surat al-An’am, ayat 112:

“Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”

Setan membisikkan kepada manusia sebuah kebatilan, lalu manusia tersebut membisikkan kebatilan tersebut kepa da manusia yang lain. Maka, setan-setan dari jenis manusia dan jin keduanya ikut andil dalam menebarkan pengaruh setan.

Dan keduanya ikut serta dalam memberikan bisikan-bisikan. Ayat ke-6 surat an-Nas menganjurkan kita agar senantiasa berlindung dari kejahatan dua jenis setan tersebut, yaitu setan dari golongan manusia dan setan dari golongan jin. Demikian paparan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.

Berhati-hatilah dengan racun pembisik

Lalu, siapakah pembisik itu sebenarnya? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembisik adalah orang yang membisikkan sesuatu kepada orang lain; orang yang bertugas membisikkan apa yang harus dikatakan oleh pemain lain dalam sandiwara.

Hampir dari setiap peristiwa tersohor atau kisah raja berkuasa, selalu di belakangnya ada pembisik. Pembisik itu bisa bernama penasihat, dewan pertimbangan, majelis pengawas, atau apa pun namanya. Mereka inilah yang setiap saat pastilah ada.

Dalam bukunya al- Hajj, Dr. Ali Syari’ati menegaskan makna ‘sang pembisik jahat’ adalah racun mematikan yang diinjeksikan ke dalam diri manusia oleh ular yang berkepala tiga dan berwajah seratus. Khannas atau ‘sang pembisik’ lebih berbahaya dibandingkan penguasa penentu pengambil keputusan.

Ingatlah, sahabat yang sejati adalah orang yang dapat berkata benar kepada kita, bukan orang yang selalu membenarkan perbuatan kita. Mereka bukan sumber bisikan jahat penuh muslihat, melainkan sahabat yang penuh nasihat.